Washington kembali panas setelah nama Alibaba dan Baidu muncul dalam daftar hitam Pentagon. Langkah itu memicu kegaduhan di internal pemerintahan Donald Trump karena menyentuh langsung tarik-menarik lama antara tekanan ekonomi, keamanan nasional, dan kebutuhan menjaga hubungan dengan Beijing.
Situasi ini jadi makin sensitif karena pertemuan Trump dan Xi Jinping dijadwalkan berlangsung di Beijing pada 14 Mei 2026. Agenda tersebut dipandang sebagai momen penentu, apakah kedua negara akan meredakan ketegangan atau kembali masuk ke pola saling serang dalam perang teknologi.
Daftar hitam yang memantik kekacauan
Pada awal tahun ini, Pentagon memasukkan Alibaba dan Baidu ke daftar hitam perusahaan yang dituduh mendukung militer China. Namun, keputusan itu dibatalkan hanya dalam hitungan menit, meski dampaknya sudah terlanjur menyebar ke pasar dan ruang politik.
Saham dua raksasa teknologi China sempat anjlok tajam setelah pengumuman itu muncul. Menurut NewFortuneTimes, gejolak pasar tersebut terjadi walau dokumen daftar hitamnya segera dihapus.
Peristiwa singkat itu membuka kembali perpecahan di tubuh pemerintahan Trump. Satu kubu mendorong langkah lebih keras terhadap China, sementara kubu lain khawatir kebijakan agresif justru merusak jalur diplomatik yang masih dijaga menjelang pertemuan puncak kedua pemimpin.
Tarik-menarik di Pentagon dan Gedung Putih
Bloomberg melaporkan bahwa upaya terbaru memperbarui daftar hitam itu berubah kacau karena perdebatan di antara pejabat Pentagon dan Gedung Putih. Sebagian pejabat keamanan nasional mendukung penambahan Alibaba dan Baidu ke dalam daftar.
Di saat yang sama, muncul keberatan atas rencana menghapus produsen chip China YMTC dan CXMT dari daftar hitam. Sejumlah pejabat menilai langkah itu bisa melemahkan posisi AS dalam perang teknologi melawan China dan memicu guncangan politik di Washington.
Kekisruhan itu disebut menjadi salah satu alasan mengapa Alibaba dan Baidu akhirnya dihapus dari daftar tambahan tak lama setelah diumumkan. Insiden tersebut juga disebut mempermalukan para pejabat yang terlibat dalam penyusunan daftar itu.
Daftar 1260H yang makin luas
Daftar hitam Pentagon yang dikenal sebagai daftar 1260H sudah lama menjadi titik panas dalam hubungan AS-China. Perusahaan yang masuk daftar ini menghadapi pembatasan atas kontrak pemerintah, investasi, dan akses ke teknologi AS.
Cakupannya juga terus melebar ke perusahaan-perusahaan besar China di sektor strategis seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, baterai, dan telekomunikasi. Tencent, Huawei, dan CATL termasuk di antara nama yang sebelumnya sudah masuk daftar tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa Washington tidak hanya memandang isu dagang, tetapi juga keamanan nasional. Dalam praktiknya, perang teknologi antara dua ekonomi terbesar dunia itu kini berjalan di banyak lini sekaligus.
Gencatan senjata yang rapuh
Dalam beberapa bulan terakhir, Washington dan Beijing sama-sama berusaha menjaga ketegangan agar tidak meledak lebih jauh. China disebut melunak dalam pembatasan ekspor mineral tanah jarang, sementara AS menunda sebagian pembatasan teknologi yang menargetkan perusahaan-perusahaan China.
Meski begitu, ketegangan di sektor semikonduktor, AI, dan perdagangan tetap tinggi. Para analis menilai perpecahan di dalam pemerintah AS memperlihatkan dilema besar yang dihadapi Trump, yakni menyeimbangkan kerja sama ekonomi dengan kekhawatiran keamanan nasional.
Pertemuan Trump dan Xi Jinping pada 14 Mei 2026 kini menjadi ujian penting bagi arah hubungan kedua negara. Hasilnya akan ikut menentukan apakah AS dan China bergerak ke arah yang lebih stabil atau kembali ke konfrontasi yang lebih keras.
Source: www.cnbcindonesia.com






