Pertemuan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi dengan Donald Trump di Ruang Oval menjadi momen yang sulit diabaikan. Di satu sisi, ia baru saja hadir di tengah pelayat dalam prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran; di sisi lain, ia berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat beberapa hari kemudian.
Kontras itu memperlihatkan posisi Baghdad yang kian rumit. Irak harus menjaga hubungan strategis dengan Washington, tetapi juga tidak bisa begitu saja memutus jalur politik yang selama ini sangat dipengaruhi Teheran.
Washington Membaca Kunjungan Ini Sebagai Sinyal Besar
Pertemuan al-Zaidi dan Trump pada Selasa (14/7) dipandang Gedung Putih sebagai kemenangan politik. Utusan AS untuk Irak, Tom Barrack, disebut telah bekerja selama berminggu-minggu untuk memastikan kunjungan itu terjadi.
Menurut mediaindonesia.com, langkah tersebut dibaca sebagai tanda bahwa pemerintahan baru Irak bergerak menjauh dari pengaruh Iran. Al-Zaidi sendiri baru berusia 40 tahun dan berlatar belakang pengusaha, lalu naik menjadi perdana menteri pada Mei setelah kebuntuan politik panjang di Irak.
Agenda Iraq First Jadi Sorotan
Pejabat AS menyebut Iran sempat menekan al-Zaidi agar tidak menjadikan Washington sebagai tujuan kunjungan luar negeri pertamanya. Namun, ia tetap datang dan memilih menegaskan agenda Iraq First di hadapan Trump.
Dalam pertemuan itu, Trump memuji al-Zaidi sebagai pemimpin hebat dan pejuang bagi Amerika. Bahkan, ia menambahkan agenda makan siang yang tidak direncanakan sebelumnya.
Empat Fokus Utama Yang Dibawa Al-Zaidi
Di depan kamera, al-Zaidi tidak menyinggung Iran. Ia lebih menonjolkan empat agenda utama yang ia bawa ke Washington, mulai dari penguatan ekonomi hingga penertiban senjata di dalam negeri.
| Agenda | Fokus | Keterangan |
|---|---|---|
| Hubungan ekonomi | Penguatan kerja sama | Dengan Amerika Serikat |
| Pasukan AS | Penarikan bertahap | Jadwal penarikan pada September mendatang |
| Milisi | Pelucutan senjata | Menertibkan kelompok bersenjata |
| Otoritas negara | Kontrol senjata | Semua senjata di bawah negara Irak |
Seorang pejabat AS mengatakan, “Kesediaan al-Zaidi untuk duduk di samping Presiden Trump saat ia berbicara keras tentang Iran adalah citra yang kuat.” Pernyataan itu menegaskan bahwa momen di Ruang Oval memiliki bobot simbolis yang besar.
Ujian Terbesar Ada Pada Milisi Syiah
Isu paling krusial dari kunjungan ini adalah komitmen al-Zaidi untuk melucuti senjata milisi Syiah yang didukung Iran. Topik itu menjadi pembahasan utama dalam pertemuannya dengan Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Di level politik, Washington tampak ingin melihat Irak bergerak lebih tegas terhadap kelompok bersenjata. Namun di lapangan, pertanyaannya tetap sama: apakah al-Zaidi mampu menertibkan milisi sekaligus menjaga stabilitas politik di dalam negeri.
Dunia internasional kini menunggu apakah langkah diplomatik di Washington akan diikuti tindakan nyata di Irak. Ujian itu juga terkait janji kampanye al-Zaidi untuk memberantas korupsi dan memperkuat kedaulatan negara.
