Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyiapkan rapat lintas kementerian dan lembaga untuk merespons kenaikan harga plastik global yang mulai menekan industri dalam negeri. Salah satu agenda utamanya adalah membahas kemungkinan stimulus bagi sektor usaha yang terdampak agar tekanan biaya bahan baku tidak semakin mengganggu produksi.
Pembahasan itu menjadi penting karena biaya input industri pengguna plastik terus meningkat seiring naiknya harga di pasar internasional. Pemerintah juga melihat risiko lanjutan terhadap kelancaran operasional pelaku usaha nasional jika kondisi ini dibiarkan tanpa langkah penyangga.
Stimulus masih dibahas bersama satgas ekonomi
Airlangga mengatakan pembahasan akan dilakukan bersama tim satgas yang menangani percepatan ekonomi nasional. Ia juga menyebut peran satgas debottlenecking dalam mencari solusi yang bisa segera dijalankan untuk mengurangi hambatan di lapangan.
“Besok kita akan bahas rapat dengan tim satgas di sini. Satgas percepatan ekonomi nasional, termasuk [satgas] debottlenecking,” ujar Airlangga kepada awak media di kantornya, Jakarta, Senin (27/4/2026). Hingga kini, bentuk bantuan yang akan diberikan pemerintah belum diumumkan dan masih dikaji melalui koordinasi antarlembaga.
Airlangga menegaskan keputusan akhir belum diambil. “Tunggu besok akan dibahas,” katanya.
Impor plastik naik tajam dan menekan pasar domestik
Kebutuhan intervensi pemerintah tidak lepas dari tren impor plastik yang terus naik dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor plastik Indonesia tumbuh dari 2019 hingga 2023, dengan volume yang terus membesar hingga mencapai ratusan juta kilogram per periode.
Tekanan itu juga terlihat jelas pada data yang lebih baru. Pada Juni 2024, impor plastik tercatat 90,98 juta kg dengan nilai US$202,11 juta, lalu naik tajam pada September 2024 menjadi 0,56 juta ton dengan nilai US$0,92 miliar.
Memasuki awal 2026, tren tersebut belum mereda. Pada Januari, nilai impor plastik dan barang dari plastik diperkirakan mencapai US$949,2 juta, kemudian sebesar US$873,2 juta pada Februari.
Pasokan masih bergantung pada negara tertentu
Data BPS menunjukkan pasar domestik masih banyak bergantung pada pasokan dari luar negeri. Pada Februari 2026, pengiriman plastik ke Indonesia didominasi oleh China, Thailand, dan Korea Selatan.
Ketergantungan ini membuat industri manufaktur di dalam negeri rentan terhadap perubahan harga global. Saat harga plastik dunia naik, biaya produksi di Indonesia ikut terdorong karena bahan baku masih banyak berasal dari impor.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena dapat menggerus daya saing industri nasional. Dalam situasi seperti ini, stimulus dipandang sebagai salah satu opsi untuk membantu sektor yang paling terdampak agar tetap beroperasi tanpa menunda aktivitas usaha secara luas.
Arah kebijakan menunggu hasil koordinasi antarlembaga
Rapat lintas kementerian pada Selasa menjadi tahap penting untuk menentukan bentuk respons pemerintah. Koordinasi itu akan menjadi dasar dalam menyusun dukungan yang lebih tepat sasaran bagi industri yang terkena dampak kenaikan harga plastik.
Pemerintah kini berada pada fase menghimpun masukan dan memetakan kebutuhan di lapangan sebelum menetapkan skema bantuan. Fokus utamanya adalah menjaga produksi tetap berjalan di tengah tekanan biaya, sekaligus memastikan industri dalam negeri tidak semakin terbebani oleh lonjakan harga plastik global dan derasnya impor.







