Air India sedang berada di titik paling rapuh sejak privatisasi, saat tekanan bisnis, operasional, dan reputasi datang bersamaan. Di saat publik menunggu hasil akhir investigasi jatuhnya AI-171, maskapai ini justru dibayangi rugi besar, kepemimpinan yang goyah, dan biaya avtur yang makin menekan pemulihan.
Otoritas Investigasi Kecelakaan Pesawat India atau Aircraft Accident Investigation Bureau diperkirakan merilis laporan akhir dalam waktu kurang dari satu bulan. Laporan itu akan memberi gambaran lebih utuh atas tragedi AI-171 yang menewaskan 260 orang tak lama setelah lepas landas dari Ahmedabad pada 12 Juni 2025.
Kerugian terbesar di bawah Tata Group
Air India kini disebut sebagai entitas dengan kerugian terbesar di bawah Tata Group sejak diambil alih dari pemerintah pada 2022. Laporan media lokal menyebut kerugian maskapai untuk tahun yang berakhir Maret 2026 mencapai sekitar US$ 2,4 miliar atau sekitar Rp 39 triliun.
Beban itu memperlihatkan betapa beratnya proses pemulihan yang harus dijalani maskapai. Target transformasi yang dijanjikan sejak privatisasi belum sepenuhnya tercermin dalam kinerja harian.
Mantan eksekutif industri Jitendra Bhargava menilai Air India membutuhkan arah yang lebih tegas untuk keluar dari tekanan saat ini. Ia mengatakan rencana lima tahun pascaprivatisasi belum berjalan mulus dan ada kesenjangan besar antara perencanaan dan implementasi.
Bhargava juga menilai tantangan warisan dari pengelolaan lama sempat diremehkan. Ia menambahkan bahwa pembentukan tim baru berjalan lebih lambat dari yang diharapkan, sehingga pembenahan internal ikut tertahan.
Kepemimpinan dan keselamatan ikut disorot
Tekanan itu makin rumit setelah pengunduran diri CEO Campbell Wilson pada tengah periode krisis. Kekosongan kepemimpinan dinilai memperbesar hambatan dalam upaya penyehatan bisnis dan penguatan operasional.
Di lapangan, Air India masih menghadapi gangguan yang mengikis kepercayaan publik. Salah satunya adalah penerbangan Delhi–Vancouver yang harus kembali ke Delhi setelah hampir delapan jam terbang karena tidak memiliki izin masuk wilayah udara Kanada.
Sorotan lain datang dari regulator penerbangan India yang sebelumnya menemukan 51 pelanggaran keselamatan dalam audit tahunan. Dari jumlah itu, tujuh pelanggaran masuk kategori berat dan menambah tekanan pada reputasi keselamatan maskapai.
Masalah modernisasi armada juga belum selesai. Keterlambatan pengiriman pesawat baru akibat masalah rantai pasok global ikut menahan rencana pembaruan armada yang menjadi bagian penting dari strategi pemulihan.
Rute dipangkas, biaya membengkak
Tekanan finansial tidak berhenti pada sisi kepatuhan dan armada. Air India juga memangkas sejumlah rute internasional, termasuk Delhi–Washington dan Mumbai–San Francisco, yang berdampak pada pendapatan.
Langkah itu menunjukkan adanya upaya menyeimbangkan ekspansi dengan kemampuan operasional dan efisiensi biaya. Namun dalam kondisi seperti ini, setiap penyesuaian rute bisa langsung memengaruhi arus kas.
Di saat yang sama, pelemahan rupee India memperberat beban perusahaan. Mata uang itu terdepresiasi lebih dari 10% terhadap dolar AS, sementara banyak biaya Air India tetap bergantung pada transaksi berbasis dolar.
Analis aviasi Mahantesh Sabarad menilai situasi tersebut menjadi tantangan besar bagi pemulihan Air India. Biaya bahan bakar dan leasing pesawat juga ikut tertekan oleh fluktuasi mata uang, sehingga ruang gerak perusahaan makin sempit.
Avtur mahal dan dukungan pemegang saham
Selain kurs, gejolak harga bahan bakar di Timur Tengah turut menambah tekanan pada maskapai. Avtur yang mahal biasanya langsung memukul biaya operasional maskapai berbasis jaringan internasional seperti Air India.
Dalam situasi itu, dukungan pemegang saham menjadi sangat penting. Tata Group dan Singapore Airlines yang memegang 25,1% saham disebut perlu memperkuat dukungan pendanaan untuk menutup kerugian yang terus meningkat.
Tekanan keuangan ini ikut memunculkan pertanyaan baru soal kemampuan Air India mempertahankan ritme transformasi. Tanpa suntikan modal dan disiplin operasional yang lebih kuat, target pembenahan bisa makin jauh dari jangkauan.
Bayang-bayang laporan akhir investigasi
Hasil investigasi AI-171 tetap menjadi perhatian utama di atas seluruh tekanan tersebut. Sejumlah analis menilai beban Air India bisa makin berat bila laporan akhir memunculkan temuan yang berdampak pada reputasi maskapai.
Meski kewajiban finansial terkait kecelakaan diperkirakan sudah banyak tertangani, dampak reputasi belum selesai. Dalam industri penerbangan, kepercayaan publik sering memengaruhi pemulihan jangka panjang lebih kuat daripada kerugian finansial semata.
Dengan rugi besar, kepemimpinan yang tersendat, rute yang dipangkas, armada yang belum pulih sepenuhnya, dan biaya avtur yang terus tertekan gejolak pasar, Air India kini menghadapi salah satu fase tersulit sejak privatisasi. Laporan akhir AAIB diperkirakan menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan arah tekanan terhadap maskapai itu ke depan.
Source: www.beritasatu.com