Air Cucian Beras Ternyata Bisa Jadi Pupuk Murah, Begini Efeknya Pada Tanaman Hias

Air cucian beras kini makin dilirik sebagai pupuk rumahan untuk tanaman hias karena murah, mudah didapat, dan punya kandungan nutrisi yang mendukung pertumbuhan. Cairan yang selama ini sering dianggap limbah dapur ternyata menyimpan pati, mineral, dan unsur hara yang bisa dimanfaatkan kembali untuk perawatan tanaman.

Ketertarikan pada bahan ini bukan hanya soal kebiasaan turun-temurun. Sejumlah ulasan nutrisi tanaman menunjukkan air cucian beras dapat membantu menyuburkan media tanam, memperkuat pertumbuhan daun, dan mendukung perkembangan akar jika dipakai dengan takaran yang tepat.

Kandungan yang membuatnya bermanfaat

Air cucian beras terbentuk saat beras dibersihkan atau dimasak, lalu debu, kotoran, dan pestisida ikut terlepas dari biji-bijian. Proses itu menyisakan cairan yang kaya pati dan mineral, sementara pati di dalamnya dapat mengaktifkan mikroba tanah untuk menguraikannya menjadi nutrisi lembut bagi akar.

Dalam jurnal karya Mira Ariyanti, air cucian beras disebut berpotensi dijadikan pupuk karena kandungan nutrisinya yang tinggi. Di dalamnya terdapat vitamin B1, B3, dan B6, serta mangan, fosfor, zat besi, kalsium, magnesium, dan boron dalam komposisi yang disebut cukup besar.

Kandungan unsur haranya juga mencakup nitrogen, fosfor, kalium, dan magnesium. Nitrogen mendukung pertumbuhan vegetatif, fosfor membantu perkembangan akar, sedangkan kalium berperan dalam kesehatan tanaman secara umum.

Efek yang dicari pada tanaman hias

National Nutrition Council, Philippines menyebut air rebusan cucian beras dapat digunakan sebagai pupuk untuk meningkatkan produksi tanaman dan mendorong pertumbuhan yang sehat. Kandungan NPK di dalamnya membuat air ini relevan untuk tanaman hias yang membutuhkan asupan nutrisi ringan namun rutin.

Manfaat yang paling sering dicari adalah sumber pupuk ramah lingkungan, bahan yang mudah tersedia, dan cara hemat biaya untuk menggantikan pupuk tertentu. Air cucian beras juga dikaitkan dengan peningkatan populasi bakteri sehat di tanah, pengendalian hama organik, serta dukungan untuk pertumbuhan daun dan akar.

Meski begitu, pemakaian berlebihan justru bisa memunculkan masalah. Pada tanah berpasir, air cucian beras dapat melarutkan ion nitrogen, membentuk lapisan tanah yang mengeras, memicu pertumbuhan bakteri dan jamur berbahaya, serta menarik hama pemakan pati seperti semut dan lalat kecil.

Cara mengolahnya agar lebih aman

Air cucian beras untuk tanaman hias bisa diolah dengan beberapa cara, yaitu difermentasi, direbus, atau digunakan langsung setelah pencucian. Setiap metode punya karakter berbeda, sehingga pilihan pemakaian perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi media tanam.

Untuk fermentasi, air beras bisa dibuat dari nasi matang yang dimasukkan ke toples kaca lalu diberi air suling, atau dari air cucian beras yang langsung difermentasi. Wadah ditutup kain kasa dan disimpan di tempat gelap selama 1 sampai 2 minggu, lalu hasilnya disaring dan diencerkan sebelum dipakai.

Jika muncul jamur putih di permukaan, kondisi itu masih dianggap wajar dalam proses fermentasi. Sebaliknya, pertumbuhan jamur hitam, cokelat, atau oranye menjadi tanda proses sebaiknya diulang dari awal karena dapat merusak tanaman.

Air beras rebus juga bisa dibuat dengan perbandingan beras dan air 1:1, lalu direbus 30 sampai 45 menit hingga beras melunak. Cairan yang dihasilkan perlu didinginkan dan diencerkan sebelum digunakan karena bentuknya kental dan dapat mengeras di lapisan atas tanah.

Cara pakai sesuai jenis tanaman

Untuk penggunaan langsung, beras dicuci dengan perbandingan air dan beras 3:1, lalu direndam 30 sampai 45 menit atau digosok agar nutrisinya cepat keluar. Cairan kemudian disaring dan dapat disimpan di toples kaca atau botol semprot tanpa pendinginan selama sekitar tiga hari.

Metode penyemprotan cocok untuk tanaman yang mampu menyerap nutrisi lewat daun, termasuk anggrek. Cara ini dianggap praktis karena nutrisi terlarut dapat langsung diserap, sementara penyiraman dari bawah lebih sesuai untuk sukulen dan tanaman kecil yang potnya sudah tampak kering atau sedikit lembap.

Untuk semak atau tanaman berukuran besar di dalam ruangan, penyiraman dari atas juga bisa dipakai dengan menuangkan air beras sampai mengalir lewat lubang pot. Kuncinya tetap sama: gunakan secukupnya, encerkan bila perlu, dan jangan membiarkan cairan menumpuk terlalu lama di permukaan tanah.

Source: www.idntimes.com
Terkait