Adu Bunga Dana Memanas, Bank Besar Masih Punya Senjata Dana Murah

Author: Cung Media

Persaingan menghimpun dana nasabah di perbankan semakin ketat karena bunga simpanan mulai naik di hampir semua kelompok bank. Di saat likuiditas mengetat, bank tidak cukup lagi hanya mengandalkan layanan, tetapi juga harus menawarkan imbal hasil yang lebih menarik.

Tekanan itu membuat penyesuaian bunga dana menjadi strategi utama agar simpanan tidak bergeser ke instrumen lain. Pasar uang dan surat berharga negara kini ikut memperebutkan dana masyarakat, sehingga ruang gerak bank untuk mempertahankan deposito dan simpanan menjadi makin sempit.

Bunga Simpanan Naik di Hampir Semua Kelompok Bank

Lembaga Penjamin Simpanan mencatat rata-rata suku bunga simpanan per kelompok bank berdasarkan modal inti bergerak naik, kecuali KBMI-1. KBMI-1 turun 1 basis poin menjadi 3,77%, sementara KBMI-2 naik 10 basis poin menjadi 3,83%.

Kelompok Bank Perubahan Rata-Rata Suku Bunga Simpanan
KBMI-1 Turun 1 bps 3,77%
KBMI-2 Naik 10 bps 3,83%
KBMI-3 Naik 8 bps 3,58%
KBMI-4 Naik 3 bps 2,88%

Tren itu menunjukkan transmisi kenaikan suku bunga kebijakan mulai merembes ke sisi simpanan perbankan. LPS juga mencatat suku bunga simpanan valas industri naik tipis 1 basis poin dan masih berada di level yang relatif tinggi.

Menurut LPS, sebagian bank memilih menawarkan bunga valuta asing yang lebih tinggi dibanding pesaingnya. Strategi itu ikut mendorong penyesuaian bunga secara bertahap di industri perbankan.

Tekanan Moneter Belum Mereda

LPS memperkirakan tren kenaikan bunga simpanan masih berpotensi berlanjut seiring risiko kenaikan suku bunga kebijakan, yield SBN, dan suku bunga pasar uang antarbank. Kecepatan penyesuaian antarbank diperkirakan berbeda, tergantung tekanan likuiditas dan strategi pendanaan masing-masing bank.

Situasi ini terjadi ketika pasar masih mencermati arah kebijakan moneter Bank Indonesia di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan perubahan ekspektasi suku bunga global. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin menjadi 5,75%.

Kenaikan suku bunga bisa membantu menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga membawa konsekuensi bagi industri perbankan. Biaya dana berpotensi naik, net interest margin dapat tertekan, dan permintaan kredit bisa ikut melemah.

Bank Besar Mengandalkan Dana Murah

Di tengah tekanan itu, perbankan mulai menghitung ulang strategi pendanaan agar likuiditas tetap terjaga tanpa mengorbankan profitabilitas. Bank dengan basis dana murah yang kuat punya ruang lebih besar untuk menahan guncangan biaya dana.

PT Bank Central Asia Tbk. menjadi salah satu contoh yang mengandalkan pertumbuhan current account savings account atau CASA. Hingga Maret 2026, CASA BCA mencapai Rp1.089 triliun dan tumbuh 11,2% secara tahunan, dengan porsi sekitar 85,2% dari total dana pihak ketiga.

Indikator BCA Nilai Periode
CASA Rp1.089 triliun Hingga Maret 2026
Pertumbuhan CASA 11,2% secara tahunan Hingga Maret 2026
Porsi CASA terhadap DPK 85,2% Hingga Maret 2026

Struktur dana murah itu membantu BCA menjaga stabilitas biaya dana ketika suku bunga bergerak naik. Perseroan juga tetap mencermati suku bunga acuan, kondisi makroekonomi, risiko pasar, dan dinamika likuiditas perbankan dalam menentukan strategi suku bunga.

Risiko Margin dan Kredit Meningkat

Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Myrdal Gunarto menilai pelemahan rupiah ikut dipengaruhi penguatan dolar AS sebagai aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik global. Kondisi itu mendorong arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia juga melihat adanya perpindahan dana investor global dan kelompok masyarakat bermodal besar ke instrumen yang lebih aman. Menurut Myrdal, likuiditas secara umum ikut turun karena hot money outflow dan perpindahan simpanan investor.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan bisa menekan margin bunga bila bank tidak segera menyesuaikan bunga kredit. Dalam jangka menengah, risiko naiknya kredit bermasalah juga perlu diwaspadai karena biaya dana cenderung bergerak lebih cepat dibanding bunga kredit.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Trioksa Siahaan menegaskan dampaknya dapat terasa pada profitabilitas dan penyaluran kredit, terutama pada segmen yang sensitif terhadap bunga seperti UMKM, konsumsi, dan korporasi. Tantangan bank bukan sekadar menjaga likuiditas, tetapi juga mempertahankan fungsi intermediasi di tengah era suku bunga tinggi.

Dengan tekanan rupiah, persaingan dana, dan potensi penyesuaian kebijakan moneter yang masih terbuka, bank harus menjaga keseimbangan antara mempertahankan dana nasabah, menjaga profitabilitas, dan tetap menyalurkan kredit secara hati-hati.

Source: finansial.bisnis.com
Terbaru