Adira Finance Punya Jurus Baru Dongkrak Pembiayaan Mobil, Pasar Masih Tertekan

Adira Finance menyiapkan langkah agresif namun tetap hati-hati untuk mendorong pembiayaan mobil baru dan bekas. Perusahaan tidak mengejar volume semata, tetapi menargetkan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan di tengah pasar kendaraan yang masih menantang.

Fokus utama perusahaan ada pada penguatan kemitraan. Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani menyebut kerja sama dengan dealer, showroom, dan mitra penjualan lain menjadi salah satu tumpuan, ditopang sinergi dengan Bank Danamon sebagai induk usaha serta perluasan jaringan di wilayah yang punya potensi pertumbuhan.

Mengandalkan produk yang relevan dan proses yang lebih cepat

Adira Finance juga berusaha memperkuat daya tarik bagi konsumen lewat produk dan layanan. Perusahaan menawarkan program pembiayaan yang relevan, pricing yang kompetitif, serta proses kredit yang dibuat lebih mudah dan cepat, namun tetap prudent.

Di saat yang sama, penyaluran pembiayaan tetap dilakukan secara selektif. Perusahaan menimbang profil risiko dan kemampuan bayar konsumen agar pertumbuhan tetap terjaga dan kualitas portofolio tidak terganggu.

Hingga April 2026, pembiayaan mobil baru Adira Finance tercatat sebesar Rp2,8 triliun. Pembiayaan mobil bekas berada di level Rp1,9 triliun.

Kontribusi mobil baru terhadap total portofolio sekitar 18%, sedangkan mobil bekas menyumbang sekitar 12%. Gani menyebut tren pembiayaan di kedua segmen itu masih meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pasar masih dibayangi daya beli dan ketidakpastian

Meski strategi internal diperkuat, prospek pembiayaan kendaraan hingga semester I/2026 masih menghadapi tekanan. Adira Finance menilai dua faktor utama yang menahan laju pasar adalah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dan ketidakpastian ekonomi global.

Perusahaan melihat konsumen masih berhitung dalam mengambil keputusan pembelian. Daya beli, harga kendaraan, biaya kepemilikan, dan kemampuan mengambil komitmen pembiayaan baru masih menjadi pertimbangan utama.

Kondisi itu juga tercermin dari data Otoritas Jasa Keuangan. Pada Maret 2026, penyaluran mobil baru tercatat terkontraksi 3,17% secara tahunan menjadi Rp146,56 triliun.

Segmen mobil bekas juga mengalami tekanan. Penyalurannya turun 7,67% secara tahunan menjadi Rp86,73 triliun, sejalan dengan sikap konsumen yang makin selektif di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.

Harga dan biaya kepemilikan ikut menekan minat beli

Selain daya beli, kenaikan harga kendaraan ikut memengaruhi keputusan pembelian. Biaya kepemilikan seperti perawatan dan operasional juga membuat sebagian konsumen menunda pembelian atau memilih lebih berhati-hati.

Dalam situasi tersebut, Adira Finance tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit. Perusahaan menempatkan keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan kualitas aset sebagai prioritas utama.

Strategi itu membuat Adira Finance tidak hanya mengejar ekspansi di mobil baru, tetapi juga menjaga momentum di mobil bekas. Perusahaan menegaskan akan terus memperkuat penawaran produk dan layanan yang sesuai kebutuhan konsumen agar pembiayaan bisa tumbuh sejalan dengan profil risiko pasar yang masih menantang.

Source: finansial.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button