Pedro Acosta menutup Brno dengan rasa frustrasi yang sama seperti yang ia bawa sepanjang akhir pekan itu. Saat sedang bersaing untuk hasil besar dan mengintip posisi lima besar, motornya kembali bermasalah hingga membuatnya gagal finis.
Di hari yang sama, Marc Márquez kembali berdiri di puncak podium. Situasi itu membuat sorotan Acosta tak hanya tertuju pada masalah teknis KTM, tetapi juga pada kebangkitan rivalnya yang dinilai masih punya naluri juara kuat setelah cedera parah.
Masalah yang datang di momen paling krusial
Acosta menjelaskan bahwa kerusakan motor di Brno mirip dengan yang ia alami pada Jumat. Ia menyebut ada masalah mesin yang muncul lagi tepat ketika ia sedang punya peluang untuk mengamankan hasil terbaik.
Menurut pembalap KTM itu, ia tidak punya banyak ruang untuk mengatasi persoalan tersebut sendiri. Ia juga menegaskan bahwa insiden itu bukan sesuatu yang bisa dia kendalikan di atas motor.
Sudah masuk persaingan Top 5
Dalam balapan, Acosta merasa sudah melakukan hal terpenting di awal lomba. Ia start dengan baik, melahap beberapa lap solid, lalu harus mengelola turunnya tekanan pada ban depan.
Situasi itu membuatnya sempat memberi jalan kepada Diggia yang punya kecepatan lebih baik. Setelah itu, ia mencoba memanfaatkan rombongan di belakang untuk menaikkan tekanan ban ke level yang aman.
Acosta mengatakan ia berada cukup lama di belakang Mir sampai tekanan ban kembali ke rentang yang tepat. Saat itu, ia merasa sudah siap menuntaskan pekerjaan untuk mengunci posisi lima besar, tetapi masalah motor datang satu putaran terlalu lambat untuk diselamatkan.
KTM masih harus mencari penyebabnya
Apa yang terjadi di Brno bukan kasus terpisah bagi Acosta. Ia menuturkan bahwa mesin kembali mati dengan cara yang sama seperti pada Jumat, dan kini materialnya harus dibawa ke Austria untuk diperiksa lebih jauh.
Ia menekankan bahwa masalah seperti itu bukan akibat gaya membalapnya. Bagi Acosta, kondisi tersebut sudah mulai menjadi topik yang berulang di sekitarnya karena insiden serupa sudah terjadi lebih dari sekali.
Brno juga memperlihatkan nama besar lain
Di tengah frustrasi karena gagal finis, Acosta tetap menilai bahwa bertahan di kelompok lima besar sudah menunjukkan kerja yang layak. Ia menyebut balapan itu memang tidak datang sebagai peluang yang mudah sejak awal.
Perhatian lain di Brno datang dari kemenangan Marc Márquez, sementara Marco Bezzecchi mendapat sorotan karena insiden dengan seorang marshall. Acosta tidak banyak mengulas Bezzecchi, tetapi ia menilai kemungkinan itu menjadi salah satu sanksi terberat yang pernah terlihat di MotoGP.
Pujian untuk Márquez yang tak berubah
Bagian yang paling tegas dari komentar Acosta justru tertuju pada Márquez. Ia mengingat bahwa pembalap itu kembali setelah cedera yang disebutnya hampir membuat lengan Márquez seperti “hampir tergantung”, namun kemampuan mengendarainya tetap utuh.
Acosta mengatakan tidak ada kejutan besar dari performa Márquez, karena level seperti itu memang sudah diperkirakan banyak orang. Menurutnya, sembilan gelar juara dunia tidak datang secara kebetulan, melainkan dari kualitas yang terus terjaga dalam jangka panjang.
Fokus berikutnya ke Belanda
Acosta juga menatap seri berikutnya di Belanda, tempat pembatasan putaran mesin bisa saja kembali menjadi isu. Namun ia mengaku kekhawatirannya tidak sebesar di Brno.
Alasannya, Yamaha sudah lama tampil di sana tanpa memiliki motor paling bertenaga di grid. Karena itu, Acosta memilih fokus pada upaya memberi 100 persen dengan paket yang tersedia, alih-alih terlalu terpaku pada potensi masalah yang sama.
Source: www.motosan.es






