Friendster kembali mencuri perhatian setelah domain lamanya dibeli programmer dan pengusaha Mike Carson. Ia dilaporkan mengeluarkan sekitar USD 30.000, atau setara Rp 517 jutaan, untuk mengamankan nama situs yang pernah sangat populer di awal era media sosial.
Pembelian itu bukan sekadar upaya mengoleksi domain nostalgia. Carson justru ingin menghidupkan Friendster lagi sebagai jejaring sosial dengan pendekatan yang berbeda dari media sosial modern yang kini didominasi interaksi serba cepat dan serba digital.
Dari ikon warnet ke proyek kebangkitan
Friendster pernah menjadi salah satu platform yang paling sering dibuka saat warnet masih ramai dikunjungi. Popularitasnya sempat meredup setelah kalah bersaing dengan Facebook, lalu layanan resminya berhenti beroperasi pada 2015.
Meski begitu, nama Friendster tidak sepenuhnya hilang dari internet. Situs itu sempat kembali bisa diakses pada Oktober 2023, tetapi tampilannya tidak lagi seperti media sosial lama karena lebih banyak berisi iklan pop-up untuk mengejar pendapatan iklan.
Cara Carson mendapatkan domain dan merek Friendster
Ketertarikan Carson berawal dari domain Friendster yang masih aktif dan dianggapnya unik. Ia menelusuri pemiliknya dan menemukan bahwa orang itu pernah bertukar email dengannya sebelumnya.
Setelah menghubungi pemilik domain dan menyampaikan minat membeli, Carson mendapat informasi bahwa domain tersebut sebelumnya dibeli seharga USD 8.000. Negosiasi kemudian menghasilkan kesepakatan, dengan pembayaran Bitcoin senilai USD 20.000 untuk Friendster.com dan satu domain lain yang disebut menghasilkan pendapatan iklan tahunan sekitar USD 9.000.
Sesudah transaksi selesai, Carson juga mendapat kabar bahwa hak merek dagang Friendster akan segera berakhir. Ia kemudian berkonsultasi dengan pengacara dan menempuh proses panjang hingga akhirnya memperoleh hak merek dagang tersebut pada 13 Mei 2025.
Konsep baru: jejaring sosial yang mendorong tatap muka
Carson tidak ingin Friendster sekadar kembali hadir sebagai platform nostalgia. Menurut laporan yang dikutip detikINET dari Gigazine, ia ingin membawa Friendster menjadi layanan jejaring sosial yang memberi dampak positif bagi pengguna.
Ia menilai banyak media sosial saat ini justru mendorong sisi negatif, sedangkan Friendster dulu dikenang sebagai pengalaman yang menyenangkan. Karena itu, versi baru Friendster diarahkan untuk memperkuat hubungan yang lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Salah satu ide utamanya adalah menjadikan “mengetuk ponsel pintar” sebagai satu-satunya cara untuk menambah teman. Dengan sistem itu, dua orang harus berada cukup dekat di dunia nyata dan saling mengetuk ponsel masing-masing secara bersamaan.
Carson menilai konsep tersebut bisa mendorong orang lebih sering bertemu langsung dan berinteraksi dengan orang sungguhan. Pendekatan ini sekaligus membuat Friendster berbeda dari jejaring sosial lain yang umumnya cukup mengandalkan klik dan koneksi virtual.
Aplikasi sempat ditolak, lalu berhasil dirilis
Carson kemudian mengembangkan Friendster untuk iOS. Namun, aplikasi itu sempat ditolak App Store karena dianggap melanggar persyaratan “Fungsionalitas Minimum 4.2”.
Setelah penolakan tersebut, Carson memodifikasi sistem agar siapa pun tetap bisa mendaftar. Meski begitu, aturan utama untuk menambah teman tetap dipertahankan, yaitu pengguna harus bertemu tatap muka dan melakukan ketukan ponsel secara langsung.
Versi terbarunya akhirnya berhasil dirilis di App Store dan kini bisa diunduh melalui toko aplikasi Apple. Carson menyebut dirinya tidak menempatkan monetisasi sebagai fokus utama, walau ia berharap biaya operasional nantinya bisa tertutup seiring waktu.
Fitur yang membedakan Friendster versi baru
Friendster versi baru dirancang dengan dua pembeda utama yang ingin dipertahankan Carson. Pengguna bisa melihat teman dari teman yang sudah ada dan mengirim pesan kepada mereka, tetapi penambahan teman tetap harus dilakukan lewat pertemuan di dunia nyata.
Selain itu, Carson memperkenalkan konsep koneksi yang bisa melemah jika dua pengguna tidak saling berinteraksi dekat setidaknya sekali dalam setahun. Ia menyebut aturan ini bukan hukuman, melainkan pengingat bahwa relasi yang sehat perlu dijaga lewat hubungan langsung.
Ke depan, Carson membuka kemungkinan hadirnya paket berbayar dengan fitur premium. Namun untuk saat ini, fokus utamanya tetap membangun ulang Friendster sebagai jejaring sosial yang mendorong interaksi nyata, bukan sekadar aktivitas virtual di layar ponsel.
Source: inet.detik.com






