8 Negara Ini Santap Ikan Sapu-Sapu, Dari Hidangan Tradisional Hingga Pengendali Invasif

Ikan sapu-sapu selama ini identik sebagai hama perairan di Indonesia. Namun di sejumlah negara, ikan yang juga dikenal sebagai pleco itu justru masuk ke dapur dan diolah menjadi makanan lokal.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa status ikan sapu-sapu sangat ditentukan oleh konteks setempat. Di satu wilayah, ikan ini dipakai sebagai pangan alternatif, sementara di wilayah lain tetap dianggap spesies invasif yang perlu dikendalikan.

Amazon menjadi pusat konsumsi ikan sapu-sapu

Peru termasuk negara yang cukup akrab dengan olahan ikan ini. Di sana, ikan sapu-sapu dikenal sebagai carachama dan banyak ditemukan di kawasan Amazon seperti Loreto, Ucayali, dan San Martín.

Masyarakat setempat mengolah carachama menjadi sup ikan seperti chilcano de pescado. Di kalangan masyarakat Selva, ada pula hidangan serupa bernama timbuche.

Brasil juga memiliki tradisi serupa dengan nama lokal bodó, acari-bodó, dan cascudo. Salah satu spesies yang dikenal adalah Liposarcus pardalis atau bodó, yang dijual di pasar ikan dan dimanfaatkan sebagai sumber pangan harian di Amazon Brasil.

Ekuador mengolah ikan ini menjadi maito de carachama. Hidangan tersebut dibuat dengan membungkus ikan memakai daun lalu memanggangnya, dan dikenal sebagai bagian dari kekayaan gastronomi di Archidona, Napo.

Nama berbeda, fungsi kuliner serupa

Kolombia mengenal ikan keluarga Loricariidae sebagai cucha. Salah satu spesies yang diminati adalah Chaetostoma vagum atau cucha trompiblandita, terutama di Caquetá dan Amazonas karena dagingnya putih dan rasanya khas.

Venezuela menyebut ikan ini corroncho dan menggunakannya dalam sancocho. FAO juga mencatat beberapa spesies Loricariidae lain yang ikut dikonsumsi di kawasan Amazon-Orinoco, termasuk Ancistrus, Exastilithoxus, Lasiancistrus, Pseudoancistrus, dan Rineloricaria.

Pola konsumsi itu memperlihatkan bahwa ikan sapu-sapu tidak hanya hadir sebagai bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi lokal di kawasan sungai besar Amerika Selatan. Dalam banyak kasus, ikan ini dipilih karena mudah ditemukan dan sudah lama masuk dalam kebiasaan makan masyarakat setempat.

Dipakai untuk pangan alternatif dan pengendalian invasif

Di Meksiko, ikan sapu-sapu dikenal sebagai pez diablo. Negara itu memanfaatkannya sebagai bagian dari pengendalian spesies invasif, sekaligus memandang dagingnya rendah lemak dan tinggi protein.

Data di Meksiko juga menyebut kandungan logam berat serta senyawa organoklorin berada di bawah ambang batas standar kesehatan. Karena itu, ikan ini tetap memiliki ruang pemanfaatan meski status ekologisnya bermasalah.

Filipina juga menggunakan ikan sapu-sapu di beberapa wilayah ketika populasinya meningkat di sungai tertentu. Meski tidak seterkenal nila atau bangus, ikan ini tetap dipakai sebagai pangan alternatif sekaligus membantu menekan penyebaran spesies invasif.

Di India, konsumsi ikan sapu-sapu masih terbatas. Ikan ini mulai dikenal sebagai bahan pangan lewat pengaruh praktik kuliner dari Amerika Latin dan Meksiko, walau secara umum masih dipandang sebagai spesies invasif.

Indonesia mengambil sikap berbeda

Indonesia justru tidak menganjurkan konsumsi ikan sapu-sapu. Alasannya terkait temuan logam berat berbahaya pada ikan ini di perairan tertentu, termasuk Sungai Ciliwung.

Gubernur Jakarta Pramono Anung pernah menyebut adanya timbal dan zat lain yang dinilai berbahaya bagi manusia jika dikonsumsi. Pernyataan itu menegaskan pembeda utama antara Indonesia dan negara-negara yang menjadikan ikan sapu-sapu sebagai bagian dari tradisi makan.

Perbedaan perlakuan terhadap ikan sapu-sapu menunjukkan bahwa faktor kualitas air, kebiasaan konsumsi, dan standar keamanan pangan sangat menentukan. Karena itu, ikan yang di satu tempat dianggap lauk harian bisa berubah menjadi ancaman kesehatan di tempat lain.

Source: www.beritasatu.com

Terkait