
Setelah tujuh tahun menunggu sejak Metro Exodus, seri Metro akhirnya kembali menyita perhatian lewat Metro 2039 yang terungkap dalam acara Xbox First Look. Entri non-VR baru pertama sejak Metro Exodus itu langsung memberi sinyal bahwa arah cerita akan jauh lebih gelap, lebih politis, dan lebih berat dari sebelumnya.
Salah satu perubahan paling besar ada pada tokoh utama. Untuk pertama kalinya dalam seri utama, Metro 2039 menghadirkan protagonis bersuara dan tidak lagi menempatkan Artyom di pusat kisah, melainkan karakter baru bernama The Stranger.
The Stranger, wajah baru di dunia Metro
The Stranger digambarkan sebagai sosok penyendiri yang hidup dengan mimpi buruk penuh kekerasan. Ia dipaksa kembali ke Metro, tempat yang sebelumnya ia bersumpah tidak akan didatangi lagi.
Peran baru ini membuat cerita Metro 2039 terasa berbeda sejak awal. Karakter itu tidak hanya menjadi penggerak plot, tetapi juga memberi sudut pandang baru terhadap dunia Metro yang sudah lama dikenal penuh trauma, kekacauan, dan ancaman dari segala arah.
Dalam deskripsi resminya, The Stranger menjalani perjalanan berbahaya sambil mengejar sekelompok anak yang dibawa pergi oleh Novoreich. Anak-anak itu disebut dipaksa masuk ke dalam ideologi kelompok tersebut, sehingga konflik yang dibangun tidak hanya soal bertahan hidup, tetapi juga soal perebutan kendali atas masa depan.
Metro kembali ke jalur horor politik
Latar Metro 2039 tetap berada di Metro Moskow, namun situasinya kini jauh lebih buruk. Seluruh jaringan Metro disebut jatuh di bawah kendali Novoreich, faksi Nazi dalam semesta Metro yang dipimpin oleh Hunter, sosok legendaris Spartan yang kini menyebut dirinya “Fuhrer”.
Materi pengenalan game menggambarkan rezim ini sebagai kekuatan yang mengandalkan propaganda dan disinformasi. Mereka menjanjikan keselamatan kepada warga di permukaan, sementara banyak komunitas lain tetap terjebak di bawah tanah dalam tekanan, ketakutan, dan kontrol otoriter.
Pendekatan itu membuat Metro 2039 tampak tidak sekadar meneruskan formula lama. Game ini justru menempatkan penindasan politik dan kekerasan sistemik sebagai inti konflik, sehingga nuansa dunia rusak yang selama ini melekat pada seri Metro terasa semakin tajam.
Nada cerita dibuat lebih suram
Executive producer Jon Bloch menyebut pemain bisa mengharapkan “a much darker tone” dalam Metro 2039. Ia juga menjelaskan bahwa kampanye game ini dirancang sebagai pengalaman single-player yang handcrafted dan sangat bertumpu pada cerita.
Creative director Andriy Shevchenko menambahkan bahwa pesan utama game ini kini lebih berfokus pada akibat dari perang, harga dari diam, horor dari tirani, dan mahalnya kebebasan. Pernyataan itu selaras dengan materi visual yang memperlihatkan reruntuhan Moskow, Kremlin yang hancur, dan massa yang digerakkan propaganda.
Cuplikan trailer juga menegaskan bahwa ancaman di game ini tetap datang dari dua sisi. Selain manusia bersenjata, makhluk mutan turut hadir sebagai bagian dari lanskap brutal yang sudah menjadi ciri khas Metro.
Konteks yang ikut membentuk cerita
Metro 2039 dikembangkan oleh studio Ukraina, 4A Games, dan latarnya tetap memanfaatkan Metro Moskow tanpa menghindari konteks perang Rusia di Ukraina. Simbolisme dalam trailer, termasuk anak-anak yang dibawa pergi dengan rantai, dinilai mengingatkan pada abduksi anak-anak Ukraina oleh negara Rusia.
Penulis asli seri Metro, Dmitry Glukhovsky, diketahui terpaksa meninggalkan Rusia karena sikapnya yang menentang invasi ke Ukraina. Bloch mengatakan pihaknya mengembangkan cerita baru itu bersama Glukhovsky, dengan fondasi nilai kebebasan dan kebenaran yang dibentuk oleh realitas keras di sekitar mereka.
Walau baru memperlihatkan potongan singkat gameplay, Metro 2039 sudah memberi gambaran kuat bahwa seri ini tetap bertumpu pada atmosfer, horor, dan drama sosial yang pekat. Game ini disebut akan rilis pada musim dingin, dan dari materi awal yang dibagikan, Metro tampaknya kembali membawa pemain ke terowongan gelap, dunia yang retak, serta pertarungan melawan kekuasaan yang makin menekan.





