Remake dan remaster biasanya hadir dengan janji sederhana: membawa game klasik ke era baru dengan tampilan lebih mulus dan pengalaman yang lebih nyaman. Namun, tidak semua versi baru berhasil menjaga pesona aslinya, dan tujuh judul berikut justru memunculkan kekecewaan karena kualitasnya dianggap turun dari game original.
Masalahnya bukan hanya soal visual yang kurang meyakinkan. Ada yang kehilangan fitur penting, ada yang tetap bermasalah secara teknis, dan ada pula yang dinilai terlalu jauh bergeser dari identitas versi lama.
7 Remake dan Remaster yang Mengecewakan
| Judul | Masalah Utama | Dampak yang Dirasakan Pemain |
|---|---|---|
| Batman: Return to Arkham | Frame-rate terkunci di 30fps, visual hanya sedikit membaik, warna berlebihan, tekstur tidak konsisten | Peningkatan terasa tipis dan hasil akhirnya tidak memuaskan |
| GoldenEye 007 | Identitas game berubah, gameplay terlalu mirip shooter modern, Bond versi Pierce Brosnan diganti Daniel Craig | Versi baru dianggap kehilangan “jiwa” aslinya |
| Grand Theft Auto: The Trilogy – The Definitive Edition | Versi PC rilis dalam kondisi bermasalah, penuh bug dan glitch, visual dan pencahayaan turun | Banyak pemain kecewa karena kualitasnya lebih buruk dari game original |
| Metal Gear Solid: Master Collection | Resolusi dibatasi 720p, kurang optimal di layar modern, glitch saat loading, subtitle typo | Kompilasi terasa belum siap sepenuhnya untuk perangkat modern |
| Assassin’s Creed: The Ezio Collection | Peningkatan visual minim, gameplay tidak diperbarui, frame-rate tetap 30fps | Tak terasa seperti versi definitif trilogi Ezio |
| Call of Duty: Modern Warfare 2 | Campaign memang diperbarui, tetapi multiplayer dan Spec Ops tidak ada | Paket remaster terasa setengah dari game original |
| Warcraft III: Reforged | Visual tak sesuai janji, UI lebih buruk, bug, crash, masalah koneksi online, fitur penting hilang | Banyak pemain tetap menganggap versi lawas lebih baik |
Batman: Return to Arkham
Seri Batman: Arkham dari Rocksteady sudah lama dianggap sebagai salah satu pencapaian terbesar di game superhero. Karena itu, Batman: Return to Arkham sempat dipandang sebagai kesempatan untuk menghadirkan dua game pertama dalam bentuk yang lebih modern.
Ekspektasi itu tidak benar-benar terbayar. Frame-rate yang dikunci di 30fps, peningkatan visual yang tipis, warna yang terasa berlebihan, dan tekstur yang tidak konsisten membuat hasil akhirnya jauh dari harapan.
GoldenEye 007 dan hilangnya identitas klasik
GoldenEye 007 di Nintendo 64 terkenal bukan hanya karena aksi dan desain levelnya, tetapi juga sebagai game yang akrab dimainkan bersama teman. Versi remaster-nya sebenarnya punya modal besar lewat visual yang lebih baik, kontrol yang disempurnakan, dan multiplayer online.
Meski begitu, banyak pemain menilai remaster ini kehilangan identitas asli. Pendekatan gameplay yang terlalu mirip shooter modern seperti Call of Duty membuat karakternya memudar, sementara sosok Bond versi Pierce Brosnan diganti menjadi Daniel Craig.
Trilogi GTA yang justru menuai masalah teknis
Grand Theft Auto: The Trilogy – The Definitive Edition semula diharapkan menghidupkan kembali tiga game klasik GTA untuk generasi baru. Kenyataannya, versi PC hadir dalam kondisi bermasalah dan dipenuhi bug serta glitch.
Visual dan pencahayaannya juga dinilai turun dibanding game original, sementara desain karakter terasa aneh. Keputusan Rockstar menyerahkan pengembangan ke Grove Street Games, studio kecil yang kurang berpengalaman, ikut dikaitkan dengan hasil akhir yang mengecewakan.
Kompilasi besar yang belum terasa rapi
Metal Gear Solid: Master Collection Vol. 1 dirilis untuk merayakan ulang tahun ke-35 seri Metal Gear dan memuat lima game utama plus sejumlah bonus tambahan. Secara konsep, paket ini terlihat sangat menarik untuk para penggemar lama.
Namun, kualitas teknisnya menuai kritik karena resolusi dibatasi di 720p, tampilan kurang optimal di layar modern, dan masih muncul glitch saat loading serta subtitle yang typo. Masalah serupa juga membuat koleksi ini terasa belum benar-benar siap sebagai paket modern.
Ezio Collection dan ekspektasi versi definitif yang gagal tercapai
Assassin’s Creed II, Brotherhood, dan Revelations membangun reputasi Ezio Auditore sebagai salah satu tokoh paling populer di seri Assassin’s Creed. Tiga game itu punya cerita berkelanjutan dan pengalaman bermain yang solid, sehingga The Ezio Collection sempat diharapkan menjadi versi terbaiknya.
Faktanya, peningkatan visualnya dinilai minim dan bahkan bermasalah. Gameplay tidak diperbarui, sementara frame-rate tetap terkunci di 30fps, membuat koleksi ini jauh dari kesan versi definitif yang dijanjikan banyak pemain.
Modern Warfare 2 tanpa bagian penting yang ditunggu
Call of Duty: Modern Warfare 2 pernah mengubah standar genre FPS lewat engine baru, multiplayer yang lebih matang, dan campaign penuh momen dramatis seperti misi “No Russian”. Saat remaster-nya rilis pada 2020, ekspektasi pun ikut naik.
Campaign memang mendapat pembaruan yang baik, tetapi absennya multiplayer dan Spec Ops membuat paket ini terasa tidak lengkap. Banyak pemain akhirnya melihatnya sebagai hanya setengah dari pengalaman original yang dulu begitu berpengaruh.
Warcraft III: Reforged jadi contoh paling mengecewakan
Warcraft III: Reforged awalnya diharapkan menjadi cara baru menikmati perang epik Azeroth dengan visual modern dan fitur yang lebih lengkap. Namun, hasil akhirnya justru jauh dari harapan dan menjadi salah satu kegagalan paling disorot Blizzard dalam beberapa tahun terakhir.
Visual yang dijanjikan tidak sesuai, UI dinilai lebih buruk, dan game ini dipenuhi bug, crash, serta masalah koneksi online. Lebih mengecewakan lagi, beberapa fitur penting dari game original juga hilang, sehingga banyak pemain tetap menganggap versi lawas sebagai pilihan terbaik.
