Panggung Piala Dunia kembali memberi ruang bagi generasi baru untuk mengambil alih perhatian. FIFA menyoroti enam pemain muda yang tampil menonjol di fase grup dan mulai masuk radar kandidat Pemain Muda Terbaik.
Nama-nama itu datang dari Spanyol, Swiss, Aljazair, Brasil, dan Pantai Gading. Mereka bukan sekadar ikut tampil, tetapi memberi pengaruh langsung lewat gol, assist, dan permainan yang stabil di laga penting.
Lamine Yamal dan Pau Cubarsi memberi Spanyol dua wajah berbeda
Spanyol mendapat dua nama besar dari daftar ini, masing-masing dengan peran yang berbeda. Lamine Yamal tampil dari sisi serangan, sementara Pau Cubarsi menjaga ketenangan di jantung pertahanan.
Yamal, yang akan berusia 19 tahun, mencetak satu gol saat Spanyol menghadapi Arab Saudi. Ia juga terus merepotkan lini belakang lawan dengan kecepatan dan kreativitasnya setelah tim sempat kesulitan menembus pertahanan Tanjung Verde pada laga pembuka.
Di sisi lain, Cubarsi tampil penting saat Spanyol menang 4-0 atas Arab Saudi. Bek tengah lulusan akademi Barcelona itu membantu La Roja menjaga clean sheet kedua secara beruntun lewat kemampuan membaca permainan, penempatan posisi, dan pengambilan keputusan yang rapi.
Manzambi, Maza, dan Rayan muncul dari momen penting
Johan Manzambi menjadi pembeda untuk Swiss ketika masuk dari bangku cadangan melawan Bosnia dan Herzegovina. Gelandang 20 tahun itu mencetak dua gol saat skor masih imbang dan membantu Swiss menang 4-1.
Performa itu menegaskan pengaruhnya di level internasional, sejalan dengan musim impresifnya bersama Freiburg yang menghasilkan lima gol dan lima assist di Bundesliga. Dari Swiss, Maza dan Rayan menunjukkan bahwa kesempatan singkat bisa berubah menjadi panggung pembuktian.
Ibrahim Maza membantu Aljazair membalikkan keadaan melawan Yordania lewat kreativitas di lini serang. Gelandang Bayer Leverkusen berusia 20 tahun itu bahkan terpilih sebagai Superior Player of the Match, setelah sebelumnya lahir di Berlin dan ditempa di akademi Hertha BSC.
Rayan juga memanfaatkan peluang besar saat Brasil kehilangan Raphinha karena cedera ketika melawan Haiti. Carlo Ancelotti memberi kepercayaan kepada pemain berusia 19 tahun itu, dan Rayan menjawabnya dengan penampilan matang dalam kemenangan 3-0.
Laga tersebut menjadi penampilan ketiganya bersama tim nasional senior sejak debut pada Maret. Keberaniannya bermain tanpa beban ikut memperlihatkan potensi yang mulai terlihat sejak bergabung dengan Bournemouth dari Vasco da Gama pada Januari.
Christ Inao Oulai menambah kedalaman bakat Pantai Gading
Pantai Gading memang kalah tipis 1-2 dari Jerman, tetapi Christ Inao Oulai tetap menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Setelah tampil meyakinkan sebagai pemain pengganti saat melawan Ekuador, ia dipercaya tampil sejak menit awal pada laga kedua.
Gelandang muda itu bermain penuh 90 menit dan mampu bersaing dengan baik melawan lawan yang lebih berpengalaman. Penampilannya ikut menegaskan kedalaman bakat Pantai Gading, yang datang ke Piala Dunia dengan skuad termuda di antara para peserta.
Dengan kontribusi yang datang dari berbagai posisi, daftar ini menunjukkan bahwa persaingan pemain muda terbaik tidak hanya soal nama besar. Performa di laga-laga penting menjadi pembeda utama, dan FIFA tampaknya punya alasan kuat untuk terus mengawasi keenam pemain ini hingga fase berikutnya.
Source: bola.bisnis.com






