Momen kurban kerap membuat konsumsi daging merah naik tajam dalam waktu singkat. Meski kaya protein dan zat besi, daging kurban juga membawa lemak jenuh, kolesterol, dan protein tinggi yang tidak selalu aman untuk semua orang.
Kondisi tubuh menjadi penentu utama apakah daging kurban aman dikonsumsi atau justru perlu dibatasi. Sejumlah kelompok dengan masalah kesehatan tertentu perlu lebih waspada karena asupan berlebih dapat memicu risiko serius, mulai dari gangguan pembuluh darah hingga beban kerja organ.
Orang dengan kolesterol tinggi perlu lebih hati-hati
Kelompok pertama yang sebaiknya membatasi daging kurban adalah orang dengan kolesterol tinggi. Daging merah, terutama yang berlemak, dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah.
Jika konsumsi terlalu banyak, risiko penyumbatan pembuluh darah dan penyakit jantung ikut naik. Ahli gizi Roxana Ehsani menyarankan penderita kolesterol tinggi membatasi daging merah hanya satu hingga dua kali dalam sebulan.
Ia juga menyarankan memilih potongan rendah lemak seperti sirloin atau filet mignon. Cara ini membantu tubuh tetap mendapat protein tanpa menambah beban lemak jenuh terlalu besar.
Penderita sindrom Alpha-gal sebaiknya menghindari total
Sindrom Alpha-gal adalah kondisi alergi terhadap daging merah yang dipicu molekul gula galaktosa-α-1,3-galaktosa. Kondisi ini biasanya muncul setelah seseorang tergigit kutu Lone Star.
Gejalanya dapat muncul setelah makan daging sapi, kambing, atau daging mamalia lain. Reaksinya bisa berupa gatal-gatal, mual, muntah, sakit perut hebat, pembengkakan bibir dan tenggorokan, hingga penurunan tekanan darah yang berbahaya.
Untuk kelompok ini, pembatasan saja tidak cukup. Penderita sindrom Alpha-gal sebaiknya benar-benar menghindari konsumsi daging kurban.
Penyakit jantung dan faktor risikonya juga perlu perhatian
Orang dengan penyakit jantung termasuk kelompok yang perlu mengontrol asupan daging merah. Lemak jenuh pada daging merah dapat mempercepat penumpukan plak di pembuluh darah, terutama bila pola makan harian tidak dijaga.
Roxana Ehsani menjelaskan bahwa penderita penyakit jantung umumnya sudah mengalami penyempitan pembuluh darah akibat plak. Jika asupan lemak jenuh terus bertambah, risiko stroke dan serangan jantung ikut meningkat.
Perhatian yang sama juga berlaku bagi orang dengan faktor risiko penyakit jantung. Kelompok ini mencakup penderita hipertensi, diabetes, obesitas, dan mereka yang menjalani gaya hidup sedentari.
Ginjal yang menurun bekerja lebih berat saat protein berlebih
Penderita penyakit ginjal stadium lanjut juga perlu membatasi daging kurban. Ginjal yang fungsinya sudah menurun tidak lagi mampu menyaring limbah dan zat sisa metabolisme seefektif orang sehat.
Asupan protein berlebihan justru dapat memperberat kerja ginjal. Karena itu, penderita penyakit ginjal stadium 3 hingga 5 biasanya dianjurkan membatasi protein sesuai kondisi tubuh dan tetap berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.
Riwayat keluarga kanker tertentu patut diperhitungkan
Kelompok lain yang perlu berhati-hati adalah orang dengan riwayat keluarga kanker tertentu, terutama kanker kolorektal atau kanker usus besar. Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi daging merah dan daging olahan dalam jumlah besar berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit ini.
Roxana Ehsani menyebut ada penelitian yang menemukan kaitan antara daging merah dan kerusakan genetik yang dapat memicu kanker usus besar. Karena itu, orang dengan faktor risiko genetik disarankan lebih bijak mengatur pola makan dan tidak berlebihan mengonsumsi daging merah dalam jangka panjang.
Porsi dan pilihan menu tetap jadi kunci
Bagi kelompok-kelompok tersebut, pengaturan porsi jauh lebih penting daripada sekadar ikut menikmati momen kurban. Membatasi jumlah, memilih bagian rendah lemak, serta menyeimbangkannya dengan sayur dan buah dapat membantu menjaga tubuh tetap aman selama Iduladha.
Konsumsi daging kurban memang tidak harus dihindari oleh semua orang. Namun bagi enam kelompok berisiko itu, keputusan makan yang lebih hati-hati dapat mencegah beban kesehatan yang serius di kemudian hari.
Source: www.beautynesia.id






