Pernah merasa sangat lelah setelah bersosialisasi, padahal yang dilakukan hanya mengobrol atau hadir di acara yang tampak biasa saja? Kondisi itu bisa terjadi karena seseorang terus mengatur cara bicara, ekspresi, dan perilaku agar terlihat sesuai harapan orang lain.
Kebiasaan seperti ini dikenal sebagai masking, yaitu upaya menyesuaikan emosi atau komunikasi supaya diterima secara sosial dan terhindar dari penilaian negatif. Sekilas tampak seperti kemampuan beradaptasi, tetapi pola ini bisa menguras energi karena seseorang terus memantau dirinya sendiri.
1. Sering menahan pendapat dan perasaan
Tanda yang paling mudah terlihat adalah kebiasaan memilih kata-kata yang aman agar orang lain senang. Akibatnya, seseorang jarang benar-benar menyampaikan apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan.
Dori Ellowitch, LMSW, psikoterapis di Manhattan Therapy, menjelaskan bahwa pola seperti ini bisa muncul saat seseorang terbiasa mengatakan hal yang hanya akan disetujui orang lain. Dorongan untuk lebih mudah diterima sering membuat perasaan asli disimpan rapat-rapat.
2. Percakapan terasa perlu disiapkan dulu
Bagi sebagian orang, obrolan sosial mengalir begitu saja. Namun pada orang yang sering masking, interaksi justru terasa seperti sesuatu yang harus direncanakan terlebih dahulu.
Deborah Bloom, PsyD, LMFT, mengatakan bahwa masking bisa terlihat dari kebiasaan berlatih percakapan dan membuat skrip sebelum bertemu orang lain. Ia juga menyebut seseorang bisa sengaja memakai bahasa tubuh tertentu, seperti mengangguk atau terlihat tertarik, walau fokusnya sebenarnya sudah menurun.
3. Sering meniru orang lain agar tampak sesuai
Menyesuaikan diri di lingkungan sosial memang wajar. Masalahnya muncul ketika penyesuaian itu berubah menjadi usaha besar untuk menyembunyikan diri sendiri.
Bloom menyebut masking dapat terlihat dari kebiasaan meniru bahasa tubuh, nada suara, atau cara bicara orang lain agar terasa cocok dengan lingkungan. Pola ini biasanya disertai rasa takut dinilai atau dianggap berbeda.
4. Ingin tampil sebagai versi paling ideal
Tanda lain muncul saat seseorang merasa harus menampilkan versi diri yang paling baik di situasi tertentu. Lingkungan baru seperti tempat kerja atau acara networking sering memicu kondisi ini karena aturan sosialnya belum terasa jelas.
Matt Grammer, LPCC-S, konselor kesehatan mental berlisensi, menjelaskan bahwa orang cenderung lebih sadar diri di situasi baru dan berusaha menghindari penilaian negatif, penolakan, atau rasa dipermalukan. Kondisi serupa juga bisa muncul saat wawancara kerja atau ketika bertemu orang dengan posisi lebih tinggi.
5. Sangat lelah setelah bersosialisasi
Dampak yang paling sering terasa dari masking adalah kelelahan setelah berinteraksi dengan banyak orang. Hal ini terjadi karena seseorang terus memantau ucapan, ekspresi, dan perilakunya sepanjang percakapan.
Ellowitch menjelaskan bahwa masking yang awalnya dipakai untuk mengelola kecemasan justru bisa membuat kecemasan meningkat karena tubuh dan pikiran berada dalam kondisi siaga terus-menerus. Jika berlangsung lama, kebiasaan ini juga dapat menurunkan rasa percaya diri dan memunculkan rasa kesepian karena orang lain tidak benar-benar melihat diri yang sebenarnya.
Menyesuaikan diri dalam situasi sosial tetap wajar, tetapi dorongan untuk menyembunyikan bagian tertentu dari diri sendiri agar diterima orang lain patut diperhatikan. Jika pola itu terasa akrab, bisa jadi tubuh sudah memberi sinyal bahwa energi terkuras bukan oleh acara sosialnya, melainkan oleh upaya terus-menerus untuk menjadi versi yang dianggap paling aman.
