Motorola sudah memulai langkah serius di pasar ponsel lipat bergaya buku lewat Razr Fold, dan hasil awalnya cukup meyakinkan. Perangkat ini dinilai punya performa kuat dan kamera impresif, tetapi masih menyisakan beberapa celah yang bisa dimanfaatkan rival.
Itulah sebabnya pembicaraan kini bergeser ke Razr Fold 2027. Jika Motorola benar-benar ingin membuat generasi berikutnya lebih matang, ada lima area utama yang paling masuk akal untuk diperbaiki tanpa mengorbankan identitas premiumnya.
1. Varian memori dan penyimpanan perlu lebih fleksibel
Salah satu kelemahan paling terlihat ada pada pilihan konfigurasi yang terlalu sempit. Razr Fold saat ini hanya hadir dalam satu kombinasi, yaitu Snapdragon 8 Gen 5 dengan RAM 16GB.
Konfigurasi itu memang cukup kuat untuk AI on-device dan multitasking berat, tetapi pilihan yang terbatas membuat ruang pasar jadi lebih sempit. Motorola akan lebih kompetitif jika menyediakan beberapa varian seperti yang dilakukan Samsung pada Galaxy Z Fold 7.
Samsung menawarkan tiga konfigurasi, dari 12GB/256GB hingga 16GB/1TB, sehingga bisa bermain di berbagai titik harga. Motorola disebut bisa meniru pendekatan itu, termasuk dengan opsi 12GB RAM dan 256GB storage agar harga awal lebih rendah.
2. Chipset flagship yang lebih tinggi masih dinantikan
Razr Fold saat ini masih tampil kencang meski belum memakai chipset Qualcomm tertinggi. Snapdragon 8 Gen 5 berada satu tingkat di bawah Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan lebih dekat ke Snapdragon 8 Elite generasi awal.
Untuk perangkat lipat premium, ekspektasi pasar tentu lebih tinggi. Karena itu, penggunaan chip setara Snapdragon 8 Elite Gen 6 menjadi peningkatan yang paling sering disebut untuk generasi berikutnya.
Motorola juga punya ruang gerak lewat chipset flagship MediaTek jika ingin menekan biaya. Strategi campuran seperti ini bukan hal baru bagi perusahaan, terutama pada lini Razr flip yang biasanya memakai seri Dimensity di model paling rendah.
3. Pengisian nirkabel akan lebih berguna jika ikut standar Qi2
Secara angka, Razr Fold sudah unggul dengan 80W wired charging dan 50W wireless charging. Namun, kecepatan wireless itu bergantung pada charger yang sangat spesifik, seperti Motorola TurboPower 50W Wireless Charger.
Masalahnya, aksesori seperti itu tidak selalu mudah dicari dan bisa terasa mahal. Karena itu, adopsi Qi2 dinilai lebih penting daripada sekadar mengejar angka watt besar di atas kertas.
Qi2 juga membawa nilai tambah lain, yaitu magnet bawaan di bodi ponsel. Dengan begitu, Razr Fold 2027 bisa langsung cocok dengan aksesori magnetik dan dudukan magnet tanpa casing tambahan.
4. Perlindungan debu masih perlu dinaikkan
Dari sisi ketahanan, Razr Fold sudah cukup meyakinkan dengan rating IP48 dan IP49. Perlindungan itu membuatnya tahan terhadap air, termasuk paparan water jets dan kondisi basah umum.
Masalah utamanya masih ada di debu. Angka “4” pada sertifikasi tersebut berarti perlindungan hanya berlaku untuk partikel berukuran 1 mm atau lebih besar, sementara partikel yang lebih kecil masih bisa menimbulkan masalah.
Ini penting karena kekhawatiran soal durabilitas masih menjadi salah satu hambatan terbesar ponsel lipat. Jika Motorola bisa meningkatkan perlindungan debu, rasa aman pengguna akan ikut naik.
5. Pilihan warna jangan terlalu aman
Motorola dikenal berani bermain warna lewat kerja sama dengan Pantone, termasuk pada material vegan leather, Alcantara, dan kayu. Justru karena itu, Razr Fold terasa lebih konservatif dibanding produk Motorola lain.
Model ini hanya tersedia dalam dua warna yang pada dasarnya hitam dan putih. Pendekatan itu bisa dipahami karena ini foldable bergaya buku pertama Motorola, tetapi generasi berikutnya jelas punya ruang untuk tampil lebih ekspresif.
Tambahan satu atau dua warna baru pada Razr Fold 2027 akan memperkuat daya tariknya di pasar premium. Apalagi perangkat ini sudah dianggap sebagai salah satu flagship Motorola terbaik sejak Razr Ultra 2025.
Source: www.androidcentral.com





