Memasuki 2026, HP Samsung Galaxy S Series bekas tidak lagi otomatis aman hanya karena statusnya pernah masuk kelas flagship. Sejumlah model lama justru membawa risiko yang langsung terasa saat dipakai harian, mulai dari layar bermasalah, baterai menurun, sampai dukungan software yang sudah berhenti.
Untuk pembeli yang mengejar pemakaian nyaman dan relevan, memilih model yang terlalu tua atau sudah kehilangan dukungan bisa jadi keputusan yang merugikan. Beberapa seri Galaxy S masih layak hidup sebagai HP kedua, tetapi untuk perangkat utama, daftarnya mulai menyempit.
Galaxy S20 series, ancaman paling nyata datang dari layar
Galaxy S20 series pernah jadi salah satu andalan Samsung di kelas premium. Namun, reputasinya di pasar bekas ikut terbebani laporan soal green line, green screen, dan flickering yang disorot SamMobile dan PhoneArena.
Masalah layar seperti ini biasanya muncul setelah perangkat dipakai beberapa tahun. Pada unit bekas yang usianya sudah lewat 5 tahun, risiko panel AMOLED rusak makin besar, sementara biaya perbaikannya juga tidak ringan dan bisa mencapai jutaan rupiah.
Risiko itu berlaku untuk seluruh varian, termasuk model reguler, Plus, dan Ultra. Karena itu, seri ini masuk kelompok yang patut diwaspadai jika tujuan utamanya adalah pemakaian harian yang aman.
Galaxy S21 series, update software sudah berhenti
Galaxy S21 series kini berada di usia sekitar 5 tahun dan Samsung telah menghentikan update software untuk lini ini. Dampaknya bukan cuma soal tidak mendapat fitur baru, tetapi juga soal sistem operasi yang tidak lagi diperbarui.
Kondisi itu membuat perangkat lebih rentan terhadap ancaman keamanan dan virus. TechRadar mencatat ada pengecualian untuk Galaxy S21 FE, karena model tersebut masih mendapat update lebih panjang dibanding lini S21 lainnya.
Bagi pengguna yang ingin tenang dalam jangka panjang, S21 non-FE jadi kurang menarik. Nilai pakainya turun cukup jauh ketika dukungan perangkat lunak tidak lagi berjalan.
Galaxy S10 series masih menarik, tetapi sudah terlalu tua
Galaxy S10 series masih terlihat menjanjikan di atas kertas karena membawa layar AMOLED, kamera telephoto, desain ikonik, dan material premium seperti Gorilla Glass 6. Masalahnya, seri ini rilis pada 2019 dan kini sudah memasuki umur sekitar 7 tahun.
UpTrade dan Black Market menyoroti kekurangannya, termasuk baterai yang buruk, tidak mendukung 5G, dan update software yang sudah lama berhenti. Dalam standar penggunaan sekarang, kombinasi itu jelas membatasi pengalaman pakai.
Kondisi tersebut membuat S10 lebih sulit direkomendasikan untuk pembelian utama. Model ini masih bisa dipakai, tetapi tuntutan harian 2026 sudah bergerak jauh dari spesifikasi dasarnya.
Galaxy S9 lebih sulit dipertahankan relevansinya
Galaxy S9 bahkan berada di posisi yang lebih lemah. Layarnya hanya 5.8 inci, sementara performanya mengandalkan Exynos 9810 atau Snapdragon 845 yang kini tergolong rendah.
Dalam penilaian yang beredar, kinerjanya setara HP baru di kisaran Rp2 juta–3 jutaan. Dalam pemakaian nyata, perangkat ini bisa mengalami lag, game berhenti tiba-tiba, dan suhu naik drastis saat menjalankan aplikasi berat.
Sama seperti S10, Galaxy S9 juga tidak mendukung 5G, sudah berhenti menerima update software, dan baterainya kecil sehingga tidak mampu bertahan seharian. Untuk 2026, model ini lebih masuk kategori nostalgia ketimbang pilihan rasional.
Galaxy S23 FE, spesifikasi oke tapi desainnya kurang meyakinkan
Galaxy S23 FE memang lebih baru karena dirilis pada 2023. Di sisi spesifikasi, perangkat ini masih menarik berkat Exynos 2200, layar Dynamic 2X, dan kamera telephoto dengan zoom optikal 3 kali.
Tetapi GSMArena menilai desainnya sebagai kelemahan utama. Bezel perangkat ini sangat tebal, tampilannya mirip HP yang lebih murah seperti Galaxy A54, dan susunan tiga kamera vertikal bersama frame membulat ikut memperkuat kesan itu.
Ketebalan, ukuran layar, dan bobotnya juga mirip Galaxy A54. Akibatnya, pengguna S23 FE berisiko merasa memakai lini Galaxy A, bukan flagship Galaxy S, meski spesifikasinya tetap kompetitif di kelasnya.
Jika ditarik ke pola yang paling jelas, masalah utama di daftar ini datang dari usia perangkat, penurunan daya tahan baterai, layar yang rawan bermasalah, dan dukungan software yang habis. Untuk 2026, model-model tersebut masih bisa dipertimbangkan sebagai HP cadangan, tetapi untuk pembelian utama ada banyak pilihan yang lebih aman.
