The Odyssey menjadi salah satu proyek paling ambisius Christopher Nolan karena memadukan kisah epik Yunani kuno dengan teknologi sinema terbaru. Produksinya tidak hanya mengandalkan skala besar, tetapi juga pengambilan gambar di laut asli dan lokasi yang tersebar di berbagai negara.
Film ini mengangkat perjalanan Odysseus, Raja Ithaka, yang berusaha pulang setelah Perang Troya. Cerita dari puisi epik Homer tersebut memberi Nolan ruang untuk membangun petualangan panjang dengan lanskap nyata dan pendekatan visual khasnya.
| Fakta Produksi | Detail Utama |
|---|---|
| Materi cerita | Adaptasi langsung dari puisi epik The Odyssey karya Homer |
| Teknologi kamera | Memakai kamera IMAX 70 mm generasi baru sepanjang produksi |
| Lokasi syuting | Yunani, Italia, Maroko, Islandia, Skotlandia, dan Inggris |
| Pemeran utama | Matt Damon menumbuhkan janggut asli untuk kebutuhan peran |
| Anggaran | Disebut mencapai 250 juta dollar |
1. Adaptasi klasik pertama dalam filmografi Nolan
Film ini menandai pertama kalinya Nolan mengadaptasi karya sastra klasik secara langsung untuk layar lebar. Sebelumnya, sutradara tersebut lebih dikenal lewat cerita orisinal atau film yang mengambil inspirasi dari beragam sumber.
Dasar ceritanya berasal dari puisi Homer yang telah berusia lebih dari 2.700 tahun. Kisahnya mengikuti Odysseus dan perjuangannya kembali ke Ithaka seusai perang besar di Troya.
Meski bersumber dari narasi klasik, The Odyssey disebut tetap memakai gaya penceritaan non-linear. Struktur itu berpotensi memberi cara berbeda dalam menampilkan perjalanan panjang Odysseus dan berbagai persinggahannya.
2. Kamera IMAX baru dipakai dari awal sampai akhir
Menurut Kompas.com, The Odyssey disebut menjadi film pertama yang seluruh proses produksinya menggunakan kamera IMAX generasi terbaru. Nolan memang telah lama memakai format IMAX dalam sejumlah film, termasuk Dunkirk dan Tenet.
Untuk proyek ini, Nolan meminta pengembangan kamera film IMAX 70 mm yang lebih ringan serta lebih senyap. IMAX kemudian membuat kamera baru untuk menjawab kebutuhan pengambilan gambar tersebut.
Nolan menjadi orang pertama yang menggunakan kamera itu sepanjang produksi film, dari awal hingga selesai. Pilihan format tersebut menjadi unsur penting untuk membangun tampilan visual berskala besar yang diincar proyek ini.
3. Enam negara dipilih untuk membangun perjalanan Odysseus
Proses syuting berlangsung di Yunani, Italia, Maroko, Islandia, Skotlandia, dan Inggris. Cakupan lokasi ini mencerminkan besarnya dunia perjalanan yang hendak diterjemahkan ke dalam film.
Sejumlah tempat pengambilan gambar juga memiliki kaitan dengan legenda perjalanan Odysseus dalam mitologi Yunani. Salah satunya ialah Favignana, pulau di Italia yang dipercaya sebagai tempat awal Odysseus dan krunya singgah untuk memanggang makanan serta mengisi perbekalan.
Pemilihan lanskap nyata memberi hubungan langsung antara dunia film dan jejak geografis yang kerap dikaitkan dengan kisah klasik tersebut. Lokasi internasional itu sekaligus menjadi salah satu faktor yang memperbesar skala produksi.
4. Matt Damon menumbuhkan janggut asli
Matt Damon diminta menumbuhkan janggut asli untuk perannya dalam The Odyssey. Nolan menginginkan tampilan yang tetap bertahan ketika karakter berada di tengah angin dan air.
Damon memenuhi permintaan itu meski sebelumnya tidak pernah menumbuhkan janggut lebat. Detail fisik tersebut menunjukkan perhatian produksi terhadap kebutuhan karakter saat menjalani adegan di lokasi.
Film ini menjadi kolaborasi ketiga Damon dengan Nolan setelah Interstellar dan Oppenheimer. Namun, The Odyssey disebut sebagai film Nolan pertama yang menempatkan Damon sebagai pemeran utama.
5. Anggaran besar didorong syuting nyata dan teknologi baru
The Odyssey disebut menelan biaya produksi hingga 250 juta dollar, angka yang menyamai rekor anggaran yang sebelumnya dikaitkan dengan The Dark Knight Rises. Besarnya dana itu dikaitkan dengan penggunaan kamera baru, jajaran pemain papan atas, serta syuting di banyak negara.
Produksi juga melakukan pengambilan gambar di laut asli tanpa mengandalkan CGI untuk bagian tersebut. Kombinasi adegan praktis, lokasi internasional, dan teknologi IMAX menempatkan film ini sebagai salah satu proyek Nolan yang paling besar setelah Oppenheimer.
