Membandingkan anak dengan saudara kandungnya sering dianggap cara mudah untuk memacu semangat. Padahal, bagi banyak anak, cara ini justru terasa seperti penilaian yang menghapus usaha mereka sendiri.
Dampaknya juga tidak berhenti pada rasa kesal sesaat. Perbandingan antarsaudara bisa memengaruhi cara anak melihat dirinya, melihat saudaranya, dan membentuk suasana hubungan di rumah.
1. Kerja keras anak terasa tidak dihitung
Salah satu alasan paling kuat adalah karena perbandingan membuat proses anak seolah tidak dianggap. Tidak semua anak memulai dari titik yang sama, dan tidak semua proses belajar menghasilkan hasil dengan ritme yang sama.
Ada anak yang cepat memahami pelajaran, ada pula yang perlu mengulang berkali-kali sebelum paham. Saat hasil akhir langsung disandingkan dengan saudara yang tampak lebih unggul, usaha yang panjang bisa terasa hilang begitu saja.
Kondisi ini menjadi makin berat ketika satu anak mendapat bantuan tambahan, sementara yang lain berjuang sendiri. Jika yang dipuji hanya nilai tertinggi, jerih payah anak yang sudah mengeluarkan tenaga ekstra bisa terasa tidak berarti.
2. Tiap anak punya bidang unggulan yang berbeda
Prestasi akademik sering menjadi ukuran yang paling mudah dilihat dalam keluarga. Namun, setiap anak bisa menonjol di area yang berbeda, mulai dari olahraga, kemampuan beradaptasi, hingga ketelatenan mengerjakan tugas kecil.
Masalah muncul saat satu jenis keunggulan dianggap lebih penting daripada yang lain. Anak yang sebenarnya kuat di bidang tertentu bisa terus merasa kalah karena ukuran yang dipakai tidak berubah.
Bagi anak seperti ini, perbandingan terasa tidak adil sejak awal. Ia bukan tidak mau berkembang, tetapi arena yang dipilih memang bukan tempat di mana dirinya paling menonjol.
3. Hubungan saudara ikut ikut tertekan
Banyak orang mengira anak yang dibandingkan akan marah pada orang tua. Kenyataannya, sebagian anak justru mulai menjaga jarak dari saudara kandungnya sendiri.
Saudara yang semestinya menjadi teman terdekat bisa berubah menjadi tolok ukur yang menekan. Akibatnya, anak menjadi enggan bercerita soal sekolah, hobi, atau pencapaiannya karena takut kembali dibawa ke perbandingan.
Lama-kelamaan, suasana rumah yang seharusnya hangat bisa berubah menjadi serba sungkan. Hubungan antarsaudara pun menjadi canggung meski mereka tinggal dalam rumah yang sama.
4. Anak terdorong menjadi orang lain demi pengakuan
Setiap anak ingin diakui oleh keluarga. Saat saudaranya lebih sering dipuji, sebagian anak mulai meniru cara belajar, pilihan kegiatan, bahkan sifat yang dianggap lebih disukai orang tua.
Masalahnya, tidak semua hal cocok untuk setiap anak. Ketika terus memaksakan diri mengikuti jejak orang lain, anak bisa kehilangan kesempatan mengenali minatnya sendiri.
Ada juga yang akhirnya menjalani kegiatan yang tidak disukai hanya demi mendapat apresiasi. Pada titik tertentu, kelelahan itu membuat perbandingan makin sulit diterima.
5. Kondisi yang tidak terlihat sering terabaikan
Hasil yang tampak dari luar sering hanya sebagian kecil dari cerita sebenarnya. Seorang anak bisa terlihat lebih tenang karena punya lingkungan pertemanan yang mendukung, sementara saudaranya menghadapi kesulitan yang tidak banyak diketahui anggota keluarga.
Jika perbandingan dilakukan tanpa melihat situasi masing-masing, anak bisa merasa dinilai secara sepihak. Tantangan yang dihadapi setiap orang tidak selalu sama, meski mereka tumbuh di rumah yang sama.
Itulah sebabnya perbandingan antarsaudara sering meninggalkan dampak lebih dalam daripada yang terlihat. Di balik hasil akhir, ada proses, kondisi, dan beban yang tidak selalu tampak dari luar.
Source: www.idntimes.com






