Di tengah wilayah Soddo, selatan Addis Ababa, berdiri deretan pilar batu raksasa yang membuat Tiya di Etiopia dikenal sebagai salah satu situs arkeologi paling misterius di Tanduk Afrika. Tempat ini bukan sekadar kumpulan batu tua, melainkan jejak kebudayaan prasejarah yang masih menyisakan banyak pertanyaan.
UNESCO menetapkan Tiya sebagai Situs Warisan Dunia sejak 1980. Status itu menegaskan pentingnya situs ini sebagai peninggalan budaya kuno Etiopia yang telah lama menarik perhatian para peneliti.
Deretan batu dengan tanda yang belum terbaca
Di Tiya terdapat sekitar 36 monumen batu raksasa, meski penelusuran lain di lokasi yang sama mencatat sekitar 46 pilar batu dengan ukuran berbeda-beda. Sebagian di antaranya mencapai tinggi 5 meter, membuat lanskap situs ini tampak sangat mencolok.
Sekitar 32 batu memuat simbol-simbol kuno yang hingga kini belum terpecahkan maknanya. Para ahli membagi pilar-pilar itu ke dalam tiga bentuk utama, yaitu antropomorfik yang menyerupai manusia, falus yang berbentuk tabung tinggi, dan non-antropomorfik yang bentuknya biasa.
Pada batu berbentuk manusia dan bentuk biasa, permukaannya dipahat rata. Bentuk batu pipih berukir seperti ini disebut sebagai satu-satunya replika prasejarah yang ditemukan di Etiopia selatan.
Jejak pemakaman kuno di balik susunan batu
Tiya juga dipandang sebagai kompleks pemakaman prasejarah berukuran besar. Saat penggalian dilakukan, peneliti menemukan makam kuno, peralatan dari Zaman Batu Pertengahan, serta sisa jenazah manusia yang diperkirakan hidup antara abad ke-12 hingga abad ke-14.
Pemeriksaan kerangka menunjukkan adanya luka yang mengarah pada kematian akibat pertempuran besar. Karena susunan batunya tampak rapi seperti deretan batu nisan, muncul dugaan bahwa situs ini pernah menjadi lokasi kuburan massal bagi para prajurit yang gugur.
Ukiran yang masih memancing teka-teki
Motif pada batu-batu Tiya terus menarik perhatian peneliti dunia. Beberapa gambar yang paling sering muncul adalah pedang, tanaman seperti daun palem atau pakis, lingkaran, serta pola garis silang yang maknanya belum diketahui.
Ada juga sosok manusia bergaya akimbo, dengan tangan berkacak pinggang dan siku menekuk ke luar secara simetris. Simbol lain yang sering muncul adalah bentuk menyerupai huruf T, yang sampai sekarang tetap menyisakan pertanyaan tentang fungsi dan pesan yang ingin disampaikan.
Usia situs dan hubungan dengan sejarah lokal
Menurut arkeolog Joussaume yang memimpin penelitian di sana, Tiya tergolong relatif baru dibanding tradisi batu besar di Etiopia yang sudah ada sejak sebelum Masehi. Para ahli memperkirakan pilar-pilar batu itu dibangun sekitar abad ke-10 hingga abad ke-15 Masehi, meski usia pastinya belum bisa dipastikan dengan sangat tepat.
Secara geografis, situs ini berada di wilayah Zona Gurage dan kerap dikaitkan dengan sejarah suku lokal Gurage. Namun, peninggalan itu tidak dibangun oleh satu suku modern tunggal yang hidup di sana saat ini.
Tiya juga merupakan satu dari sembilan situs pilar batu raksasa yang tersebar di Zona Gurage. Sejumlah sejarawan mengaitkannya dengan situs batu di Sidamo dan Konso, sementara teori lain menyebut gaya pembuatannya mungkin berakar pada peradaban Kerajaan Aksum yang legendaris.
Bagi arkeologi, Tiya tetap menjadi bukti penting tentang tradisi batu besar di Etiopia sekaligus salah satu warisan paling penuh teka-teki di kawasan itu. Barisan pilar yang sunyi itu masih menyimpan pesan yang belum sepenuhnya terbaca sampai sekarang.
Source: www.idntimes.com






