Tiga mahasiswa ITB menarik perhatian lewat cara yang tidak biasa dalam melihat limbah batubara. Mereka mengubah Fly Ash dan Bottom Ash atau FABA menjadi material baterai lithium-ion yang lebih murah dan lebih ramah lingkungan.
Inovasi itu tidak berhenti sebagai gagasan di atas kertas. Tim bernama SULE berhasil meraih Juara 1 dalam kompetisi nasional I-CHALLENGE 2026 pada kategori Industry Case Analysis Competition atau I-CAC.
Limbah yang Diubah Jadi Bahan Bernilai
Tim SULE terdiri dari Malika Fatima Lawe, Rufaida Khairina, dan I Dewa Ayu Andina Angelia. Mereka memandang FABA dari industri pembangkit listrik tenaga uap sebagai sumber material bernilai tinggi, bukan sekadar residu.
Selama ini, FABA berisiko mencemari lingkungan bila tidak dikelola dengan baik. Namun, tim tersebut melihat kandungan silika dan alumina di dalamnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan material baterai.
Untuk mengolah limbah itu, mereka memakai metode direct alkaline leaching dan ammonium sulfate roasting. Dari proses tersebut, mereka menghasilkan material anoda silikon-karbon dan lapisan keramik alpha-alumina.
Hasil Uji yang Menjanjikan
Produk olahan FABA itu menunjukkan performa yang kuat untuk kebutuhan baterai lithium-ion. Anoda berbahan dasar FABA mampu menghasilkan kapasitas hingga 1450,3 mAh/g.
Di sisi lain, separator berbasis alpha-alumina tetap stabil pada suhu hingga 200 derajat Celsius. Ketahanan ini membuatnya lebih unggul dibanding separator plastik biasa dalam hal suhu panas.
Gabungan dua material itu membuat inovasi SULE dinilai punya potensi sebagai alternatif bahan baku baterai yang lebih berkelanjutan. Biaya produksinya juga berpeluang lebih rendah karena memanfaatkan limbah industri.
Relevan untuk Kebutuhan Energi Bersih
Inovasi ini terkait langsung dengan kebutuhan energi bersih di Indonesia. Baterai berkualitas tinggi dibutuhkan untuk kendaraan listrik, penyimpanan energi tenaga surya, dan penyediaan listrik di wilayah terpencil.
Tim SULE menilai pemanfaatan FABA bisa membantu mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor material baterai. Selama ini, sebagian besar bahan baku baterai masih berasal dari luar negeri sehingga biaya produksi cenderung lebih mahal.
Di saat yang sama, solusi ini berpotensi membantu menangani jutaan ton limbah FABA yang dihasilkan industri energi setiap tahun. Dampaknya tidak hanya pada pengurangan pencemaran, tetapi juga pada penekanan emisi karbon.
Nilai Ekonomi Sirkular yang Kuat
Keunggulan lain dari inovasi ini ada pada pendekatan ekonomi sirkular. Limbah yang biasanya dianggap masalah diolah menjadi produk bernilai tinggi untuk industri energi masa depan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya Indonesia mempercepat transisi menuju energi baru terbarukan. Teknologi ini juga disebut berpotensi meningkatkan akses listrik bersih di wilayah 3T yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur energi.
Bagi ITB, capaian ini menambah daftar inovasi mahasiswa yang lahir dari riset lokal. Bagi industri, temuan tersebut membuka peluang baru untuk pengembangan baterai nasional berbasis sumber daya yang lebih efisien.
Langkah Berikutnya Menuju Komersialisasi
Keberhasilan di I-CHALLENGE 2026 menjadi langkah awal bagi tim SULE untuk membawa riset mereka lebih jauh. Mereka berharap inovasi ini tidak berhenti di level kompetisi.
Roadmap yang disusun menargetkan pengembangan riset lanjutan pada 2026 dan menuju tahap komersialisasi pada 2027. Jika berhasil, teknologi ini bisa menjadi salah satu solusi strategis untuk memperkuat industri baterai nasional dan mengurangi ketergantungan impor.
Prestasi tiga mahasiswa ITB ini menunjukkan bahwa ide dari kampus bisa menjawab dua isu sekaligus, yaitu lingkungan dan energi. Dari limbah batubara, mereka menawarkan jalan menuju baterai yang lebih murah, lebih stabil, dan lebih ramah lingkungan.
Source: pemmzchannel.com