Di Doctor on the Edge, ancaman terbesar bagi Do Ji Ui bukan datang dari penyakit atau kondisi kerja di pulau terpencil, melainkan dari sosok yang memegang kuasa besar di sana, Park Chun Sik. Kepala desa Pyeondongdo itu membuat hidup sang dokter terasa sempit dari banyak sisi.
Warga pun tampak paham bahwa berkonflik dengan Chun Sik bukan urusan kecil. Dari reputasi, urusan makan, sampai pekerjaan sehari-hari, pengaruhnya menjangkau hampir semua hal di pulau itu.
Chun Sik tak memberi ruang bagi orang yang dibencinya
Park Chun Sik digambarkan sangat keras dan cenderung hanya bersikap baik kepada orang yang ia sukai. Begitu ia tidak menyukai seseorang, kelonggaran hampir tidak ada.
Itu terasa saat hubungannya dengan Do Ji Ui memburuk. Setelah Ji Ui memberi peringatan soal potensi serangan jantung dan menyarankan Chun Sik segera berobat ke rumah sakit pusat, keadaan justru berbalik menyerang sang dokter.
Ketika Chun Sik tertipu oleh pihak asuransi, ia tidak menempatkan kemarahan pada pihak yang benar-benar keliru. Sebaliknya, Ji Ui dituduh sebagai penipu dan dokter yang tidak kompeten.
Tuduhan itu disampaikan di depan banyak orang. Akibatnya, reputasi Ji Ui ikut terganggu dan warga lain mulai memandangnya dengan sinis.
Pengaruh Chun Sik bahkan terasa sampai urusan makan
Sebagai kepala desa, Chun Sik punya pengaruh besar di Pyeondongdo. Banyak warga menghormatinya dan memilih menghindari konflik dengannya, termasuk pihak restoran satu-satunya di pulau itu.
Dampaknya terlihat saat Do Ji Ui dan rekannya hendak makan siang. Restoran tiba-tiba mengabarkan stok bahan makanan habis, tetapi keadaan itu ternyata berkaitan dengan kendali Chun Sik di balik layar.
Ji Ui akhirnya terpaksa mencari makanan saji. Ia tidak bisa menikmati makan siang bersama rekan kerjanya, meski dirinya tidak terlibat dalam persoalan yang memicu kemarahan kepala desa.
Chun Sik memakai tugas sebagai tekanan
Tekanan terhadap Ji Ui tidak berhenti pada ucapan dan pengaruh sosial. Chun Sik juga menekan dokter itu lewat pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan layanan kesehatan.
Ji Ui dan rekannya diminta membersihkan sampah serta mengantarkan paket di Pyeondongdo. Tugas itu jelas bukan tanggung jawab mereka, tetapi tetap harus dijalankan karena Chun Sik sedang kesal.
Puncak ketegangan terjadi ketika Chun Sik menyiram wajah Ji Ui. Momen itu membuat Ji Ui semakin tidak betah berada di Pyeondongdo dan menjelaskan mengapa banyak warga segan berurusan dengan kepala desa tersebut.
Rangkaian konflik itu memperlihatkan bahwa peringatan rekan kerja Ji Ui memang beralasan. Selama salah paham dengan Chun Sik belum selesai, hidup Ji Ui akan terus dipenuhi tekanan dari pengaruh sang kepala desa yang menyentuh hampir setiap sisi kehidupan di pulau itu.
Source: www.idntimes.com






