25 Tahun Janji Suci Yovie & Nuno, Nostalgia Lama Bertemu Wajah Baru di Istora

Konser 25 Tahun Janji Suci Yovie & Nuno di Istora Senayan, Jakarta, menghadirkan lebih dari sekadar pertunjukan musik. Malam itu terasa seperti perjalanan kembali ke fase-fase yang pernah membentuk ingatan banyak penonton lewat lagu-lagu grup ini.

Perayaan seperempat abad tersebut juga menandai babak baru bagi Yovie & Nuno. Formasi terbaru mereka diisi Muchamad Ahadiyat pada gitar, Ady Julian di keyboard, serta dua vokalis, Adhyra Yudhi dan Chico Andreas.

Panggung dibuka dengan memori yang langsung hidup lagi

Konser dibuka lewat medley lagu-lagu populer yang segera membawa penonton masuk ke suasana nostalgia. Layar panggung ikut menampilkan foto perjalanan grup dari masa awal hingga penampilan terkini, memberi konteks visual atas panjangnya perjalanan mereka di industri musik.

Ady Julian menjadi personel pertama yang naik ke panggung dan menempati posisi di belakang keyboard. Muchamad Ahadiyah kemudian menyusul dengan gitar, sebelum Adhyra Yudhi dan Chico Andreas menyapa penonton dengan antusias.

Lagu lama masih punya tenaga besar

Sejuta Cinta menjadi nomor pembuka yang langsung mengangkat energi penonton. Lagu yang dirilis pada 2007 dan masuk ke album The Special One itu disambut sorak-sorai meriah dari Istora.

Setelahnya, deretan lagu andalan seperti Malam Mingguku, Sampai Akhir Waktu, Bunga Jiwaku, dan Tak Setampan Romeo membuat banyak penonton ikut bernyanyi bersama. Yovie & Nuno juga membawakan Kilometer, singel utama sekaligus judul EP terbaru yang dirilis untuk menandai 25 tahun perjalanan mereka.

“Selamat malam Istora Senayan. It’s happening guys. Selamat datang semua di konser 25 Tahun Janji Suci Yovie & Nuno. Udah siap sing along lagi?” ucap Adhyra Yudhi dan Chico Andreas saat memberi sapaan di sela lagu.

Kolaborasi lintas generasi memberi warna baru

Konser ini tidak hanya bertumpu pada nostalgia. Prinsa Mandagie, Meiska, Raissa Anggiani, dan Aruma turut tampil membawakan sejumlah karya Yovie & Nuno dalam format akustik.

Mereka membawakan lagu seperti Kamu Bukan Kekasihku, Galau, dan Janji di Atas Ingkar. Kehadiran para penyanyi muda itu memberi lapisan baru tanpa menghilangkan ciri pop romantis yang sudah lama melekat pada karya-karya Yovie & Nuno.

Dudy Oris dan Isyana Sarasvati jadi momen yang paling menyedot perhatian

Salah satu bagian paling emosional datang saat Dudy Oris muncul di atas panggung. Mantan vokalis Yovie & Nuno itu membawakan Kuingat Dirimu bersama Adhyra Yudhi dan Chico Andreas, lalu melanjutkannya dengan Inginku Bukan Hanya Jadi Temanmu, Misal, Sebingkai Rindu Buat Mentari, dan Tunggu Dulu.

Rangkaian lagu tersebut membawa suasana penonton kembali ke era awal 2000-an. Momen nostalgia itu kemudian bergeser saat lampu panggung mengarah ke Isyana Sarasvati yang masuk dan menyanyikan Sakit Hati dengan karakter vokal yang kuat.

Penampilannya menonjol lewat eksplorasi nada tinggi yang dibawakan mulus sepanjang lagu. Setelah itu, Arsy Widianto, Mario Ginanjar, dan Dedi Yunus ikut meramaikan panggung lewat Tanpa Cinta, Tergoda Bidadari, dan Dia Milikku.

Janji Suci menutup malam perayaan

Bagian penutup menghadirkan Yovie Widianto yang akhirnya naik ke panggung setelah berkali-kali disebut sepanjang acara. Ia duduk di depan grand piano dan disambut tepuk tangan meriah dari penonton di Istora.

Seluruh penampil kemudian tampil bersama membawakan Janji Suci sebagai penutup konser 25 Tahun Janji Suci Yovie & Nuno. Momen itu menegaskan bahwa konser tersebut bukan hanya perayaan perjalanan panjang grup, tetapi juga pertemuan antara lagu-lagu lama, formasi baru, dan kolaborasi yang memberi napas segar pada panggung mereka.

Source: lifestyle.bisnis.com

Terkait