10 Tuna Rungu Ikut UTBK-SNBT di USK, Potret Ujian Inklusif yang Menembus Batas

Author: Cung Media

Sepuluh peserta disabilitas tunarungu mengikuti UTBK-SNBT di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dan kehadiran mereka langsung menjadi perhatian pada hari kedua pelaksanaan ujian. Mereka menjalani tes di Gedung FMIPA Blok C, Kampus Utama Darussalam, dalam suasana yang disiapkan agar lebih ramah dan setara bagi peserta dengan kebutuhan khusus.

Pelaksanaan ini menunjukkan bahwa seleksi masuk perguruan tinggi tidak hanya soal persaingan nilai, tetapi juga soal akses yang adil bagi semua calon mahasiswa. Di USK, layanan untuk peserta tunarungu dirancang agar mereka bisa mengikuti ujian dengan nyaman tanpa mengalami hambatan yang berarti.

Layanan yang disesuaikan untuk peserta tunarungu

Rektor USK, Profesor Mirza Tabrani, menegaskan bahwa infrastruktur dan sistem ujian sudah disiapkan untuk mendukung peserta disabilitas. Panitia menghadirkan petugas pengawas yang memiliki kemampuan komunikasi khusus agar proses ujian berjalan lebih lancar.

Pengaturan ruang ujian juga dibuat aksesibel. Langkah ini penting karena kebutuhan peserta tunarungu tidak hanya berada pada aspek komunikasi, tetapi juga pada lingkungan ujian yang aman, tertata, dan tidak menimbulkan tekanan tambahan.

Ujian berjalan lancar dengan pendekatan humanis

Pelaksanaan UTBK-SNBT di Gedung FMIPA Blok C disebut berlangsung dengan standar operasional prosedur yang ketat. Meski demikian, nuansa humanis tetap dijaga agar para peserta disabilitas dapat fokus mengerjakan tes tanpa terganggu situasi teknis.

Prof Mirza menyampaikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih mimpi. Pandangan itu menjadi dasar bagi USK untuk hadir bukan sekadar sebagai tempat pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai ruang yang membuka kesempatan setara bagi seluruh calon mahasiswa.

Komposisi 10 peserta tunarungu

Dari total 10 peserta tunarungu yang ikut ujian, sembilan di antaranya laki-laki dan satu perempuan. Nama-nama peserta yang tercatat adalah Fathan Muyassar, Muhammad Riski Pratama, Rifki Julian, Risky, Ferdyansyah, Bayhaqi, Teuku Sultan Syah Redhy, Muhammad Afdhalul Yasin, Muhammad Dzaky Izzuddin, Muhammad Fashihul Lisan, dan Adilla Zahra Luthfia.

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa akses pendidikan tinggi terus meluas melalui dukungan layanan yang lebih inklusif. Data peserta tersebut juga menegaskan bahwa kebutuhan kelompok disabilitas perlu mendapat perhatian nyata dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi.

Dorongan untuk kampus yang lebih inklusif

USK menyatakan ingin memperkuat posisinya sebagai kampus yang menjunjung kesetaraan dan keadilan sosial dalam pendidikan. Komitmen ini penting karena pendidikan inklusif tidak cukup hanya hadir dalam slogan, tetapi perlu diwujudkan lewat fasilitas, petugas, dan mekanisme layanan yang benar-benar bisa dipakai semua peserta.

Dalam konteks UTBK-SNBT, langkah USK menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat menyesuaikan pelaksanaan ujian tanpa mengurangi standar seleksi. Pendekatan seperti ini memberi ruang lebih besar bagi calon mahasiswa disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka secara setara.

Dengan dukungan petugas yang memahami kebutuhan peserta dan fasilitas yang disesuaikan, UTBK-SNBT di USK memperlihatkan bahwa ujian masuk perguruan tinggi dapat dirancang lebih ramah disabilitas. Kehadiran 10 peserta tunarungu itu menjadi penanda bahwa akses menuju pendidikan tinggi di Banda Aceh terus bergerak ke arah yang lebih terbuka dan inklusif.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru