Kemarahan bukan cuma emosi sesaat. Dalam laporan Global Emotion Reports dari Gallup, ada negara-negara yang warganya jauh lebih sering mengaku marah dibanding wilayah lain di dunia.
Hasil survei itu menyoroti bagaimana tekanan sosial, ekonomi, dan konflik bisa tercermin langsung pada emosi harian masyarakat. Secara global, sekitar satu dari lima orang mengaku mengalami kemarahan pada hari sebelumnya.
Chad dan Yordania ada di posisi teratas
Gallup mengurutkan negara berdasarkan jawaban “ya” dari sekitar 1.000 orang dewasa yang ditanya, “Apakah Anda mengalami kemarahan sepanjang hari kemarin?”. Dari pengukuran itu, Chad menempati posisi pertama.
Berikut 10 negara dengan warga paling mudah marah berdasarkan survei tersebut: Chad 47 persen, Yordania 46 persen, Armenia 43 persen, Irak 40 persen, Sierra Leone 40 persen, Guinea 39 persen, Republik Demokratik Kongo 38 persen, Palestina 38 persen, Iran 37 persen, dan Maroko 37 persen.
Selisih antarnegara terlihat cukup jelas. Daftar ini juga memperlihatkan bahwa kemarahan kerap muncul lebih tinggi di negara yang sedang menghadapi tekanan besar dalam kehidupan sehari-hari.
Tekanan konflik dan krisis ikut membentuk emosi warga
Negara-negara dalam daftar tersebut dilaporkan menghadapi ketidakstabilan politik atau ekonomi, bahkan sebagian terdampak perang. Kondisi seperti ini dapat memunculkan frustrasi berkepanjangan di tengah masyarakat.
Republik Demokratik Kongo menjadi contoh paling mencolok karena terus berada dalam pusaran konflik. Negara itu menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan jutaan orang terdampak pengungsian, kerawanan pangan, dan kesulitan ekonomi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat rekor 27,7 juta orang di DRC mengalami kelaparan akut pada tahun 2025. Di saat yang sama, lebih dari 7,8 juta orang telah mengungsi di seluruh negeri.
Dampak yang terasa sampai kehidupan sehari-hari
Kekerasan yang meningkat mengganggu mata pencaharian, menaikkan inflasi, dan membatasi akses terhadap makanan serta bantuan kemanusiaan. Banyak warga juga terpaksa tinggal di kamp-kamp sementara akibat pengungsian.
Kondisi itu ikut memicu wabah kolera dan campak di sejumlah lokasi. Pada tahun 2026, DRC juga menghadapi wabah Ebola baru di provinsi Ituri dan Kivu Utara yang terdampak konflik.
Rangkaian masalah tersebut memperlihatkan bahwa angka kemarahan dalam survei bukan berdiri sendiri. Di banyak negara yang masuk daftar, emosi itu berjalan beriringan dengan konflik, krisis ekonomi, dan situasi kemanusiaan yang belum stabil.
Source: www.beautynesia.id






